Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Tips Mengelola Keuangan Saat Gaji Kena Penyesuaian (Foto: Shutterstock)
Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah buruh turun 5,18 persen yoy pada Agustus 2020 akibat pandemi Covid-19. Selain itu, tingkat pengangguran naik 2,67 juta yoy menjadi 9,77 juta pada Agustus 2020.
Pandemi ini menekan beragam sektor industri dan para pekerjanya. Para pekerja rentan mengalami pengurangan penghasilan bulanan hingga hubungan kerja.
Dikutip dari keterangan tertulis Lifepal, Rabu 11 November 2020, ada tujuh tips keuangan ketika penghasilan bulanan berkurang akibat pemotongan gaji.
Pertama, jangan sembarangan mengurangi pengeluaran bulanan. Kekhawatiran mengeluarkan uang dalam jumlah besar karena pemasukan bulanan berkurang memang wajar. Tak hanya itu, muncul kecemasan kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat bekerja ingin menekan biaya operasional.
Pengeluaran dibagi menjadi tiga yaitu, pengeluaran yang bersifat wajib dibayar, pengeluaran yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan pengeluaran yang bersifat keinginan. Berhemat tentu menjadi solusi, namun kita tidak bisa asal dalam mengurangi pengeluaran.
Jika harus ada pos yang harus berkurang pilihlah pengeluaran yang bersifat keinginan seperti belanja untuk kebutuhan gaya hidup. Mengurangi bukan berarti menghilangkan. Alokasikan saja 10 hingga 15 persen dari pemasukan bulanan untuk kegiatan yang bersifat hiburan atau keinginan.

Kedua, mengurangi pengeluaran yang bersifat wajib dan berisiko.
Pengeluaran yang bersifat wajib bisa dikategorikan menjadi dua yaitu pembayaran pajak dan utang. Tidak mungkin mengurangi pengeluaran yang satu ini karena hanya akan terkena sanksi atau denda.
Jika memang pembayaran utang menjadi sangat berat akibat berkurangnya pendapatan, lakukanlah restrukturisasi dengan meminta perpanjangan tenor agar cicilan menjadi lebih rendah.
Sementara itu pengeluaran yang bersifat kebutuhan adalah pengeluaran untuk kebutuhan pokok baik itu sandang, pangan, dan papan. Mengurangi pengeluaran ini tentu akan berdampak serius pada tingkat standar dan kualitas hidup kita saat ini.
Ketiga, jika ada uang tunai yang besar, lunasi utang-utang konsumtif.
Cicilan kartu kredit menjadi bagian dari pengeluaran wajib. Jika punya tabungan atau kas dan setara kas yang besarnya di atas 20 persen dari kekayaan bersih, lunasi saja utang yang bersifat konsumtif, seperti utang kartu kredit.
Utang konsumtif ini hanya akan menggerus kekayaan bersih pada masa mendatang. Lain halnya jika kamu berutang untuk membeli aset atau bisnis (produktif).

Keempat, waspadai pembengkakan di beberapa pengeluaran.
Yang sering bekerja di rumah, tentu bisa menghemat pengeluaran transportasi dan makan di luar. Namun, ada potensi pembengkakan di operasional sehari-hari. Misalnya, tagihan listrik, kuota internet, dan pulsa.
Waspada pembengkakan pengeluaran tersebut, ada baiknya pula untuk langsung menentukan besaran untuk dua pengeluaran tersebut di awal bulan.
Kelima, jangan menyerah terhadap polis asuransi jiwa demi berhemat.
Proteksi keuangan justru menjadi hal yang harus kita miliki di masa pandemi ini. Demi mendapatkan manfaat perlindungan dari asuransi, pemegang polis harus membayar premi atau iuran ke perusahaan asuransi.
Iuran tersebut akan menjadi beban keuangan yang harus ditanggung setiap bulannya. Dengan berkurangnya pendapatan perbulan kita, besar kemungkinan iuran premi asuransi akan menjadi terasa berat.
Jika premi asuransi jiwa yang dibayar per bulan terlalu tinggi, menurunkan uang pertanggungan (UP) untuk sementara waktu bisa menjadi solusi dengan catatan, perusahaan asuransi memiliki kebijakan ini. Atau, bisa juga dengan melakukan cuti pembayaran premi hingga waktu yang ditetapkan. Besaran pembayaran premi yang ideal adalah maksimal 10 persen dari penghasilan bulanan kita.

Keenam, arus kas bulanan tetap setara dengan 10 persen pemasukan.
Sangat penting diketahui untuk menjaga arus kas bulanan tetap sehat. Nilai arus kas bersih didapat dari hasil pengurangan total pemasukan dan pengeluaran bulanan.
Usahakan agar hasil pengurangan antara pemasukan dan pengeluaran setara dengan 10 persen pemasukan. Dana sebesar 10 persen pengeluaran bisa dimanfaatkan untuk menabung dana darurat.
Ketujuh, kembali berinvestasi jika dana darurat dan proteksi sudah terpenuhi.
Investasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang tentu saja perlu dilakukan. Namun alangkah baiknya untuk memprioritaskan kesehatan cash flow terlebih dulu, menyediakan dana darurat, dan proteksi sudah terpenuhi.
Pahamilah profil risiko investasi terlebih dulu, dan tujuan finansial sebelum memilih instrumen investasinya.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
