Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Presiden Joko Widodo mengungkapkan pemerintah masih berusaha tak menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubidi. Kebijakan itu dilakukan hati-hati dengan tetap memperhatikan keuangan negara.
Berbicara dalam sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalies ke-46 Universitas Sebelas Maret (UNS), Jumat, 11 Maret 2022, Presiden mengungkapkan harga minyak dunia di tahun ini sudah melambung dibandingkan tahun 2020 yang berada di level US$ 60 per barel.
Saat ini, lanjut Jokowi, harga minyak dunia sudah hampir dua kali lipat yaitu di level US$115 per barel. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan sepekan yang lalu kala menembus level US$130 per barel.
Melihat pergerakan harga minyak dunia yang terus naik, presiden mengungkapkan, banyak negara memutuskan untuk menaikan harga jual BBM. Namun kebijakan tersebut tak ditempuh pemerintah. Semua negara harga jualnya ke masyarakat sudah naik juga, kita di sini masih nahan-nahan.
Meski tak menaikkan harga BBM, Presiden memastikan pemerintah terus memantau kesehatan anggaran negara. Jokowi mengaku sering meminta penjelasan dari Menteri Keuangan terkait kondisi keuangan negara.
" Bu Menteri saya tanya, “ Gimana, Bu? Tahannya sampai berapa hari ini?” Kita nahan-nahan terus," ungkapnya.
Pada bagian lain. Presiden mengungkapkan jika tekanan ekonomi tak hanya dialami Indonesia. Sebelumnya banyak negara tergagap-gagap ketika harus menghadapi disrupsi kronis akibat revolusi industri 4.0.

Kini, banyak kepala negara dilanda kepusingan menghadapi efek dari pandemi Covid-19 yang sama sekali tak pernah diduga.
" Tambah pusing kita semuanya, semua negara tambah pusing semuanya. Pusingnya belum reda, tambah lagi ada perang, sudah bertubi-tubi," ujar Jokowi yang mengungkapkan masalah serupa juga disampaikan kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri Jepang Kishida.
Tekanan tersebut diakui turut berimbas pada perekonomian Indonesia yang bersyukur masih bisa bertahan dan melalui dua terakhir belakangan dengan hasil baik.
" Artinya apa? Masa depan global semakin penuh dengan ketidakpastian.
https://setkab.go.id/sidang-terbuka-senat-akademik-dies-natalis-ke-46-universitas-sebelas-maret-uns-di-uns-tower-ki-hadjar-dewantara-kota-surakarta-provinsi-jawa-tengah-11-maret-2022/
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya