Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gojek Outlook 2023 (Foto: Dream.co.id/Okti Nur Alifia)
Dream - Ekonom Universitas Indonesia dan Executive Director Next Policy, Fithra Faisal Hastiadi, mencatat ada 800 ribu orang beralih menjadi mikro entrepreneur di saat pandemi. Dari perspektif makro, menurutnya, fenomena tersebut dapat menjadi prospek ekonomi ke depannya, baik dari sisi konsumen dan produsen.
" Pertumbuhan mikro entrepreneur atau penambahan mikro entrepreneur selama pandemi setidaknya ada 800 ribu orang," kata Fithra dalam acara Gojek Outlook 2023 di Jakarta, Selasa 28 Februari 2023.
Fithra mengungkap, mikro entrepreneur baru tersebut berasal dari mereka yang keluar dari sektor pariwisata, pergudangan, dan lainnya yang pekerjaan utamanya terhambat karena mobilitas.
" Dari mana mereka datangnya? Ternyata mereka yang sebelumnya terdisplace keluar dari sektor pekerjaan utama mereka karena mobilitas terhambat, mereka keluar dari sektor pariwisata, pergudangan, dan seterusnya akhirnya mereka harus tetap survive," ungkapnya.
Untuk bisa survive, para entrepreneur ini pun memanfaatkan platform digital agar bisa menumbuhkan ekonomi mereka sendiri. " Ini adalah peluang bahwa ketika mereka terhempas, mereka masih bisa masuk lagi ke lingkaran ekosistem perekonomian," katanya.
Pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 tumbuh sebesar 5,3 persen. Angka ini menurut Fithra masih cukup kuat.
Sebab saat pandemi Fithra mengatakan angka konsumsi di bawah ekonomi. Namun ada variabel kontributor baru untuk ekonomi terutama dari sisi perdagangan internasional dan pertumbuhan sektoral.
Selain perdagangan internasional, ada dua kontributor lainnya yakni transportasi dan pergudangan yang tumbuh 25,81 persen, selanjutnya akomodasi dan makananan yang tumbuh 17,5 persen.
Namun secara kontribusi dua variabel itu masih cukup rendah dan masih punya ruang untuk berkembang.
" Masing-masing ini kontribusinya masih cukup rendah. Transportasi 5% makanan dan akomodasi 2,3%. Memang tumbuh tapi masih punya ruang untuk improvement," katanya.
Dia juga mengapresiasi kinerja pemerintah yang mampu memberikan stimulus untuk sektor ekonomi.
" Pemerintah terus menjaga kemampuan ekonomi dari para pelaku ekonomi yang memberikan stimulus yang mana itu sangat berhasil. Kalau kita lihat di 2020 kalau tanpa stimulus bisa minus 4%. Itu cukup signifikan. Pemerintah di tahun 2022 menurunkan porsi belanja tapi pertumbuhan ekonomi bisa cukup tinggi, artinya itu suatu hal yang cukup menjanjikan, artinya ekonomi berhasil untuk disapih," ujarnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya