Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Ini kabar miris tentang negara kaya dunia. Meski berlimpah kekayaan dan menguasai ekonomi dunia, negara-negara kaya dunia ternyata hampir menutup mata terhadap kondisi pengungsi dunia.
Enam negara terkaya dunia yang menguasai 60 persen perekonomian di muka bumi ini ternyata hanya menampung 9 persen pengungsi dari negara konflik.
Laporan Oxfam dikutip laman theguardian, Senin, 18 Juli 2016 menyebutkan keenam negara itu yaitu Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, Perancis, dan Inggris saat ini menguasai 56,6 persen PDB dunia.
Namun keenam negara kaya itu hanya mau menampung sekitar 2,1 juta pengungsi atau cuma 8,9 persen dari total pengungsi yang ada di dunia.
Jerman menjadi tempat penampungan pengungsi terbesar dengan jumlah 736.740 orang. Sementara 1,4 juta lainnya ditampung di lima negara lainnya.
Chief Executive Oxfam, Mark Goldring menilai tindakan ini memalukan untuk sebuah negara kaya.
Kondisi kontras justru terjadi di negara-negara berkembang. Lebih dari separuh pengungsi tinggal di negara ini. Sebut saja Yordania, Turki, Palestina, Pakistan, Lebanon, dan Afrika Selatan. Padahal kekayaan mereka kurang dari 2 persen perekonomian dunia.
" Ini adalah tantangan terbesar bagi kita, disaat negara miskin dan masyarakat miskin ditinggalkan untuk menangung beban itu," ujar Goldring.
Dia mendesak kerja sama global untuk mendesak negara kaya dunia agar ikut berkontribusi dengan membuka pintu bagi para pengungsi serta membantu dan melindungi mereka dimanapun berada.
" Sangat memalukan melihat kenyataan satu negara kaya seperti Inggris hanya memberikan penampungan kurang dari 1 persen pengungsi," sindir Goldring.
Mengutip laporan UNHCR Global Trends 2015, lebih dari 65 juta penduduk dunia telah terusir dari tanah airnya akibat kekerasan, perang, dan pelanggaran hak asasi manusia. Ini merupakan jumlah terbesar sejak rekor baru tercipta.
Sebagian besar (40,8 juta jiwa) telah meninggalkan tanah kelahirannyadimana 21,3 juta jiwa memilih menjadi pengungsi dan 3,2 juta lainnya menunggu nasib dari negara-negara industri.
Para pengungsi seperti dari Suriah umumnya melarikan diri ke negara tetangga seperti Yordania yang menjadi penampungan bagi 2,8 juta orang (Yordanian) dan Turki 2,75 juta orang.
Oxfam juga menuding beberapa negara kaya membuat aturan ketat untuk menampung para pengungsi. Bukti nyata terlihat saat pengunsgi mengantre masuk Uni Eropa dan Turki.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya