Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Seorang penumpang, pada penerbangan pesawat Garuda GA 611 rute Makassar-Jakarta, meninggal dunia pada Rabu 8 Februari 2017. Meninggalnya penumpang itu sempat membuat geger karena disebut akibat guncangan hebat di udara saat penerbangan.
PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (Persero) angkat bicara tentang meninggalnya penumpang tersebut. Maskapai pelat merah ini membantah kabar yang menyebut penyebab kematian diakibatkan guncangan selama penerbangan.
" Tidak ada guncangan hebat," kata Vice President Corporate Communication Garuda, Benny S. Butarbutar, dalam keterangan tertulisnya.
Benny menjelaskan, pesawat Garuda GA 611 sebelumnya bertolak dari Makassar pukul 06.20 WITA dan mendarat di Jakarta pukul 07.45 WIB. Mendekati tujuan, seorang penumpang tiba-tiba jatuh pingsan.
Penumpang tersebut bernama Djafar Afghani yang merupakan penumpang berusia 41 tahun dan duduk di kursi 22K. Awak pesawat sempat memberikan pertolongan pertama kepada Afghan.
" Sekitar 20 menit sebelum mendarat, penumpang mengalami pingsan," kata dia.
Pilot, ujar Benny, kemudian bertanya kepada para penumpang pesawat jika diantara mereka ada yang berprofesi sebagai dokter. Dia berkata ada seorang penumpang yang merupakan seorang dokter dan membantu memeriksa kondisi Afghan.
" Setelah melakukan pemeriksaan, dirasa perlu ada penanganan lebih lanjut (medical assistance) untuk pax (baca: passenger/penumpang) yang bersangkutan," kata dia.
Benny mengatakan awak pesawat menghubungi pihak Bandara Soekarno-Hatta untuk mendatangkan ambulans yang bertujuan mengantarkan penumpang ke Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekaro-Hatta.
" Setibanya di Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekaro-Hatta, penumpang segera mendapatkan pemeriksaan dan tidak lama kemudian dokter yang melakukan pemeriksaan, menyatakan yang bersangkutan meninggal dengan diagnosis serangan jantung," kata dia.
Benny mengatakan maskapai BUMN ini telah mengikuti prosedur untuk menangani penumpang yang sakit. Selain memberikan tindakan responsif kepada Afghan, Garuda pun turut membantu mempersiapkan fasilitas penunjang untuk memulangkan jenazah.
" Tindakan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mengedepankan layanan terbaik kepada penumpang," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya