Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
George Soros Memprediksi Krisis Keuangan Akan Kembali Terjadi. (Foto: Georgesoros.com)
Dream – Saat Indonesia dilanda Krisis Moneter (Krismon) pada 1997 lalu, nama miliarder ini selalu disebut-sebut. Dialah miliarder legendaris, George Soros. Kini dia hadir lagi dengan prediksi mengejutkan.
Soros menyebutkan krisis keuangan berskala besar kemungkinan akan kembali terjadi, terutama di Uni Eropa.
Dilansir dari CNN, Kamis 31 Mei 2018, pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan tahunan Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri di Paris, Perancis. Soros berkata meningkatnya sentimen anti Uni Eropa, gangguan terhadap kesepakatan Iran, dan dolar AS yang menguat menjadi kabar buruk untuk ekonomi global.
“ Kita mungkin menuju krisis keuangan besar lainnya,” kata dia.
Soros juga menyesalkan fakta bahwa sejak 2008, program penghematan Uni Eropa mengarahkan kepada krisis. Ini juga memunculkan gerakan anti Uni Eropa yang bertanggung jawab atas terjadinya Brexit dan kekacauan politik di Italia belakangan ini.
“ Banyak orang muda yang menganggap Uni Eropa sebagai musuh yang telah merampas pekerjaan dan masa depan yang menjanjikan. Politisi populis juga mengeksploitasi kebencian serta membentuk partai-partai dan gerakan-gerakan anti-Eropa,” kata dia.
Soros megnatkaan keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mundur secara sepihak dari perjanjian senjata nuklir dengan Iran. Penghentian kesepakatan dengan Iran akan memiliki efek negative pada ekonomi Eropa.
Meskipun demikian, masih ada harapan bahwa krisis ekonomi di Uni Eropa bisa dihindari. Soros menyerukan Uni Eropa untuk membentuk organisasi yang bisa menarik minat negara-negara lain untuk bergabung.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya