7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Seorang Wanita Membawa Bendera Lebanon. (Foto: Mohamed Azakir/Google Images)
Dream - Dalam beberapa hari terakhir Lebanon dilanda krisis ekonomi yang sangat parah. Terjadinya hiperinflasi membuat berbagai kebutuhan mengalami kelangkaan dan kenaikan harga yang tak masuk akal.
Bahkan kaum wanita di Lebanon menjerit karena harga pembalut yang sebagian besar impor meroket tajam hingga tidak bisa terbeli.
Dilansir Global Times, Jumat 9 Juli 2021, kenaikan harga pembalut wanita yang tidak masuk akal ini dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda Lebanon.
Disebutkan jika harga pembalut wanita di Lebanon mengalami kenaikan hingga 500% sejak dimulainya krisis ekonomi.
Bank Dunia menyebut krisis ekonomi di Lebanon sebagai salah satu yang terburuk di dunia sejak tahun 1850-an.
Sekitar dua tahun yang lalu pembalut wanita dijual antara 3.000-4.000 pound Lebanon atau sekitar Rp28.860 hingga Rp38.480.
Namun sekarang harga pembalut yang sama sudah naik puluhan kali lipat. Sekotak pembalut kini dibanderol 13.000 pound atau sekitar Rp 125.000.
Bahkan ada yang melaporkan kalau pembalut sekarang dijual hingga 32.000 pound Lebanon atau Rp307.000 per paketnya.
Melonjaknya harga pembalut ini membuat seorang perempuan bernama Sherine tidak mampu lagi membelinya.
" Dengan semua kenaikan harga dan rasa frustrasi, saya lebih baik berhenti menstruasi sama sekali," kata wanita 28 tahun itu sambil berurai air mata.
Sherine mengatakan awalnya dia beralih ke pembalut yang lebih murah meski konon bisa menyebabkan iritasi pada kulit.
Tetapi akhir-akhir ini pembalut murahan ini malah ikut naik harganya sehingga dia terpaksa memakai handuk atau potongan kain.
Dia lebih mendahulukan kebutuhan putrinya. Uang untuk membeli pembalut dipakai untuk membeli susu untuk putrinya.
" Saat ini saya menggunakan handuk dan potongan kain. Saya memilih untuk mendahulukan putri saya yang lebih membutuhkan susu," tuturnya.
Cerita Sherine mengingatkan pada krisis Covid-19 ketika harga masker tiba-tiba melonjak tinggi hingga orang-orang terpaksa memakai masker kain.
Seperti Sherine, sebagian wanita Lebanon kini belajar membuat pembalut dari potongan kain yang bisa dipakai ulang.
Dengan lebih dari separuh populasi hidup dalam kemiskinan, puluhan ribu wanita Lebanon sekarang putus asa mencari alternatif pembalut yang terjangkau.
Sumber: Global Times
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?