Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kantor Pusat Bank Indonesa (www.merdeka.com)
Dream - Bank Indonesia (BI) memperingatkan adanya tiga risiko yang harus diwaspadai pemerintah. Untuk sementara Indonesia bisa bernapas lega setelah inflasi Lebaran relatif terjaga stabil.
Ketiga risiko yang bakal mempengaruhi inflasi Indonesia tersebut adalah perkembangan nilai tukar rupiah dan penyesuaian harga barang yang diatur pemerintah (administered price).
Satu risiko lain yang diperingatkan bank sentral adalah dampak El Nino terhadap laju inflasi ekonomi nasional.
Mengutip keterangan tertulis BI, Selasa, 4 Agustus 2015, Bank Sentral menilai inflasi lebaran 2015 terkendali dan lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi historis lebaran dalam empat tahun terakhir.
Hal tersebut ditopang oleh terjaganya inflasi harga bahan makanan yang bergejolak (volatile food) dan inflasi inti yang rendah.
" Inflasi inti tercatat sebesar 0,34 persen (mtm) atau 4,86 persen (yoy), cukup rendah dibandingkan pola historisnya," ujar BI dalam keterangannya.
Terkendalinya harga ini terutama terkait dengan ekspektasi inflasi yang terkendali dan kegiatan ekonomi domestik yang melambat. Inflasi volatile food tercatat sedikit lebih tinggi dari pola historisnya, namun tetap terkendali dengan realisasi sebesar 2,13 persen (mtm) atau 8,97% (yoy).
Tekanan inflasi volatile food terutama disumbang oleh kenaikan harga ikan segar, daging ayam, beras, dan aneka cabai. Di sisi lain, bawang merah menyumbang deflasi yang cukup besar, didorong oleh panen yang sedang berlangsung di beberapa sentra produksi.
BI juga mengapresiasi langkah stabilisasi harga oleh pemerintah yang berhasil menjaga inflasi volatile food.
Khusus inflasi harga barang akibat kebijakan (administered prices) yang tercatat naik, BI menilai hal itu disumbang oleh kenaikan tarif transportasi sesuai dengan pola musiman lebaran.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya