Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tiga Indeks Syariah Terkoreksi Hari Ini, Senin 29 Januari 2019. (Foto: Shutterstock)
Dream - Sentimen global memicu keresahan pelaku pasar di awal pekan ini. Meski muncul kabar baik dari berakhirnya `Shutdown` pemerintah Amerika Serikat, investor pasar saham mendapat sentimen negatif dari neger Tiongkok.
Data terbaru ekonomi China menunjukan pertumbuhan sektor industri hanya sebesar 10,3 persen. Analis PT Binaarta Sekuritas, Nafan Aji seperti dikutip dari Liputan6.com mengatakan investor khawatir dengan kinerja fundamental ekonomi China khususnya di sektor manufaktur.
Kabar negatif itu memicu kecemasan pelaku pasar di Tanah Air yang sudah tersulut oleh aksi jual pemodal asing di lantai bursa.
Pelemahan juga menjalar pada tiga indeks acuan saham syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kompak menutup perdagangan Senin, 28 Januari 2019 di zona merah.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menutup perdagangan dengan melemah 1,042 poin (0,54%) ke level 192,149. Penguatan ISSI hanya berlangsung 5 menit sejak awal perdagangan saat dibuka menguat di level 193,490.
Selanjutnya, ISSI menghabiskan sisa waktu perdagangan di zona merah dengan level terendah 191,444.
Koreksi juga dialami indeks keping biru syariah, Jakarta Islamic Index (JII), yang terkoreksi 6,930 poin (0,95%) ke level 718,888. Sementara Indeks JII70, turun 1,725 poin (0,71%) ke level 240,910.
Dengan ditariknya dana asing dari pasar modal Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengawali pekan ini dengan merosot 24,131 poin (0,37%) ke level 6.458,712.
Mayoritas indeks sektoral melemah. Investor banyak melepas sahamnya di sektor properti dan infrastruktur. Kedua indeks sektor saham ini terpangkas cukup besar masing-masing 1,72 persen dan 1,41 persen.
Namun masih ada empat indeks sektoral yang melesat, yaitu industri dasar sebesar 1,51 persen, pertanian 1,49 persen, perdagangan 0,19 persen, dan pertambangan 0,18 persen.
Emiten syariah pencetak top gainer kali ini adalah AALI yang harga sahamnya naik Rp425, MAPA Rp310, JPFA Rp230, dan LAND Rp200.
Sebaliknya, saham UNVR terkoreksi Rp1.275, MKPI Rp500, SHID Rp400, INTP Rp300, dan TFCO Rp170.
Dari pasar uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis. Pada pukul 16.13, kurs dolar AS terkoreksi 55 poin (0,39%) ke level Rp14.037 per dolar AS.(sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya