Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Foto: Merdeka.com
Dream - Di era digitalisasi, penguasaan komputer harus dimiliki para pekerja, terlebih aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS). Namun rupanya sekitar 30 persen PNS justru tidak melakukan pekerjaannya selama pemberlakuan sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) akibat gagap teknologi (gaptek).
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima Haria Wibisana dalam Rakornas Kepegawaian 2022 secara virtual pada Kamis, 21 Juli 2022. Ia menuturkan, survei itu dilakukan Google kepada PNS dengan sistem 100 persen WFH pada tiga bulan pertama pandemi Covid-19.
Lebih lanjut, Bima merinci, sebanyak 30 persen PNS mengaku bekerja lebih berat selama WFH. Sedangkan, 40 persen lainnya mengatakan beban kerja sama, dan 30 persen memilih untuk tidak menjawab.
" Jadi, dari data itu saja kita tahu, 30 persen ASN nggak ngapa-ngapain," ujar Bima dikutip dari laman Merdeka.com, Senin, 25 Juli 2022.
Bima menerangkan, turunnya produktivitas PNS selama sistem kerja WFH 100 persen tersebut disebabkan oleh minimnya ketrampilan dalam penggunaan teknologi digital. Hal ini diperparah dengan keengganan para PNS untuk meningkatkan keterampilan digital dengan alasan faktor usia.
" Ada yang mengatakan, kami tidak mampu untuk mempelajari (ketrampilan) digital, kami sudah tua. Itu mungkin bukan tidak mampu, tapi tidak mau belajar," bebernya.
Oleh karena itu, Bhima mendorong para PNS di Indonesia agar dapat meningkatkan ketrampilan digital untuk mendukung pekerjaan. Sehingga, bisa beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan informasi.
" Ini trend of logic yang harus kita perhatikan. Karena arahnya akan ke sana," ujarnya.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan