Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Seiring kondisi perekonomian yang makin melambat, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebutkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia terus menurun.
Penilaian itu terlihat dari peningkatan indeks kemiskinan masyarakat dari 10,96 persen pada September 2014 menjadi 11,5 persen pada Maret 2015.
Peneliti INDEF, Fadil Hasan menyebut ada empat hal yang menyebabkan kesejahteraan masyarakat secara umum merosot. Pertama, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,67 persen pada Triwulan II 2015.
" Yang kedua, tingkat kemiskinan itu berkorelasi dengan inflasi, terutama kelompok makanan yang secara tahunan pada Juli 2015 inflasinya sudah mencapai 8,28 persen," kata Fadil di Jakarta, Senin 24 Agustus 2015.
Fadil menuding, pemerintah juga telah gagal menerapkan kebijakan-kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat.
" Seperti kebijakan menarik subsidi BBM dan mengalihkan harganya pada pasar, menaikkan harga gas LPG dan berbagai harga bahan pokok makanan hanya membuat daya beli masyarakat menurun," ucapnya.
Terakhir, pemicu turunnya tingkat kesejahteraan masyarakat berasal dari sikap pemerintah yang tak memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat. Program-program jaminan sosial yang ada malah cenderung ditunda atau dihilangkan.
" Tertundanya berbagai program sosial itu akibat dari tertundanya belanja pemerintah itu sendiri," tegas Fadil.
Peneliti menyadari pemerintahan Joko Widodo saat ini memang masih terhitung baru. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menunda atau mengurangi program sosial yang bertujuan melindungi masyarakat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya