Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Dream – Situasi politik di Amerika Serikat (AS) bisa jadi kurang bersahabat bagi masyarakat Muslim. Apalagi kampanye anti-muslim yang saat ini digaungkan calon presiden Donald Trump. Namun, hal ini tidak berlaku bagi makanan halal.
Seolah menepis kampanye negatif itu, makanan halal justru mendapatkan hati di kalangan penduduk Negeri Paman Sam.
Dilansir dari Bloomberg, Kamis 15 September 2016, sebuah lembaga survei global, Nielsen, memprediksi penjualan makanan halal di tingkat ritel menyentuh angka US$1,9 miliar pada Agustus 2016. Angka ini melesat sebesar 15 persen dari tahun 2012.
Sementara itu, data dari Islamic Food and Nutrition Council of America, menunjukkan penjualan makanan halal diproyeksi akan mencapai US$20 miliar pada tahun ini. Angka ini berasal dari penjualan makanan halal di tingkat restoran hingga supermarket.
Dunia usaha pun mengakui ada pertumbuhan yang signifikan dari makanan halal. Seorang pengusaha Muslim Amerika Serikat, Shahed Amanullah, mengatakan dia menemukan 200 lokasi yang menyediakan makanan halal pada 1998—tahun di mana dia meluncurkan sebuah situs untuk menemukan makanan halal di AS. Tengok jumlahnya kini. Diperkirakan lokasi penjual makanan halal melonjak hingga 7.600 tempat.
“ Makanan halal menjadi terobosan di saat masyarakat was-was terhadap Muslim. Makanan adalah media yang baik untuk bertukar budaya,” kata Amanullah.
Pebisnis ritel pun sumringah dengan pertumbuhan makanan halal. Sebuah perusahaan ritel AS, Whole Food Market Inc., menyebut penjualan makanan halal tumbuh tertinggi di antara kategori makanan lainnya. Penjualan makanan halal di sana tumbuh dua digit selama lima tahun terakhir. Hal ini dipicu promosi Ramadan sejak tahun 2011.
Pengusaha makanan olahan pun juga tersenyum dengan animo masyarakat yang membeli makanan halal. American Halal Co., Adnan Durrani, memprediksi 80 persen pembeli merek dagang Saffron Road, bukanlah orang yang ingin mencoba mengikuti syariat Islam, melainkan pecinta makanan yang menginginkan makanan beku yang lebih baik.
Seorang pakar dari New York University Steinhardt, Krishnendu Ray, mengatakan ada kemungkinan makanan halal menjadi stigma masyarakat AS terhadap Islam. “ Atau, makanan halal bisa menjadi makanan yang konsumsi,” kata Ray.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam