Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kesenian Warga Lombok (Foto: Shutterstock)
Dream – Pariwisata Indonesia saat ini sedang menjadi primadona bagi turis mancanegara. Para wisatawan asing kini tidak hanya mengenal Bali sebagai destinasi indah di Indonesia.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengatakan, dengan meningkatnya jumlah turis asing, pemerintah menargetkan devisa 25 persen dari pariwisata.
" Targetnya kita ingin 25 persen. Mungkin tercapainya 22 tapi kalau mau gampangnya 20 persen," kata Arief di Jakarta, Selasa 9 April 2019.
Mantan bos PT Telkom Tbk ini mengatakan, turis asing yang paling banyak berasal dari Timur Tengah. “ Kedatangan turis asing saya anggap linear, karena yang dekat-dekat itu spendingnya kecil, seperti Singapura, Malaysia,” kata dia.
Berdasarkan data dari Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019, Indonesia berada di peringkat pertama bersama Malaysia.
Posisi tersebut merupakan kali pertama ditempati Indonesia. Selama lima tahun terakhir, Indonesia dianggap sebagai negara yang progresnya paling baik dalam industri halal travel.
Dream - Menteri Pariwisata, Arief Yahya, bersyukur Indonesia akhirnya menempati peringkat 1 dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 bersama Malaysia. Capaian ini akhirnya terwujud setelah ditargetkan sejak 2015 lalu.
" Alhamdulillah Indonesia menjadi yang pertama, ini kemenangan yang direncanakan," ujar Arief di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa 9 April 2019.
Arief menjelaskan progres pembangunan sektor wisata halal di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Posisi Indonesia pada GMTI terus naik.

Danau Toba (Foto: Shutterstock.com)
Pada 2015, Indonesia menempati urutan keenam dalam GMTI. Setahun kemudian, Indonesia berada di urutan keempat.
Posisi ketiga ditempati Indonesia pada 2017. Sedangkan pada 2018, Indonesia berada di urutan kedua di bawah Malaysia.
" Kita memang terbaik, kalau nggak menang jurinya salah," kelakar Arief disambut tawa hadirin.

Mandalika Lombok (Foto: Shutterstock.com)
Penyusunan GMTI didasarkan pada empat kriteria yaitu akses, komunikasi, lingkungan dan layanan. Menurut Arief, target selanjutnya dari Kementerian Pariwisata yakni lebih meningkatkan kualitas dalam kriteria penilaian GMTI.
Arief mengaku puas dengan capaian ini. Menurut dia, menempati peringkat pertama merupakan cita-citanya saat dilantik menjadi Menteri Pariwisata.
" Pemimpin tidak akan pernah tidur sebelum menjadi yang terbaik. Indonesia memang layak menang," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya