Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi Kelompok Negara Besar Dunia (G20)
Dream - Selama hampir 10 tahun pertumbuhan ekonomi dunia ditopang negara-negara berkembang, setelah krisis ekonomi terjadi sekitar 2008. Namun kini ekonomi dunia mulai kembali mengalami pergeseran.
Dengan sistem keuangan global yang mulai menuju kondisi normal yang baru, pertumbuhan global kembali ditopang negara-negara maju.
Demikian disampaikan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah dalam Seminar Tantangan dan Peluang Investasi di Pasar Modal pada Era Turbulensi Ekonomi di Jakarta, Kamis, 5 November 2015.
" Pertumbuhan dunia yang selama 10 tahun ini didorong negara berkembang, akan didorong negara maju," tegas Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesi (ISEI) Jakarta ini.
Menurut Halim, kondisi ini bisa memberikan dampak bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Alasannya, dengan pertumbuhan pesat yang dialami negara maju ini maka akan semakin besar permintaan barang ke negara itu.
Peluang inilah yang seharusnya bisa ditangkap negara berkembang untuk meningkatkan nilai ekspornya.
Indonesia, tambah Halim, bisa saja menggenjot ekspornya ke negara-negara maju ini asalkan tahu kebutuhan negara itu.
" Kita harus memperhatikan komposisi permintaan dia itu barang-barang seperti apa," ujarnya.
Halim menyayangkan sampai saat ini ekspor Indonesia masih didominasi barang-barang komoditas. Namun, dia berharap, nantinya pemerintah bisa memanfaatkan peluang besar ini dengan mengarahkan industri untuk memenuhi kebutuhan negara maju tersebut dan menjaga kurs serta inflasi sehingga produk milik Indonesia bisa bersaing dengan produk negara maju lain.
" Apakah kita mempunyai daya saing untuk memenuhi permintaan yang naik ini karena kita kan selama ini dipenuhi oleh ekspor komoditas. Itu sebabnya mudah-mudahan dengan kurs yang kompetitif, inflasi yang terkendali kita mempunyai daya saing, tapi basis dari kita juga ditingkatkan," tandasnya.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya