Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Setelah marak beredar pemberitaan mengenai buruknya pelayanan maskapai penerbangan nasional, kini Asosiasi Maskapai Nasional Indonesia (Indonesia National Air Transport Association/INACA) menyangsikan kriteria yang digunakan media asing tersebut dalam menilai keamanan dan keselamatan penerbangan Indonesia.
M. Arif Wibowo selaku ketua INACA mempertanyakan metodologi yang mereka pakai. Karena seharusnya mereka menggunakan tolak ukur yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Terutama menyangkut banyak peraturan di industri penerbangan.
Sehingga tidak bisa sembarang lembaga atau media melakukan hal itu karena menyangkut faktor risiko yang tinggi. Apalagi sangat berhubungan dengan nyawa manusia.
" Saya perlu menelusuri kenapa seolah-olah Indonesia paling rendah. Data itu diambil dari 228 airlines di 20 negara. Sedangkan maskapai kita sangat concern tehadap peningkatan safety, online performance dan hospitality," ungkap Arif saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat pada Jumat, 8 Januari 2016.
Ia menegaskan bahwa semua anggota INACA selalu patuh pada peraturan regulasi keamanan dan keselamatan yang ada, baik dari Pemerintah Indonesia maupun dari International Civil Aviation Organization (ICAO), Federal Aviation Administration (FAA) dan European Aviation Safety Agency (EASA).
Setelah diamati, ternyata ditemukan bahwa mereka menggunakan penilaian airlinerating.com yang memasukkan sebagian besar maskapai nasional dalam kategori berbahaya dan kurang memperhatikan keselamatan penerbangan.
" Sikap serius dan kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah untuk meningkatkan standar keselamatan dan keamanan penerbangan nasional mestinya menjadi salah satu kriteria penilaian," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya