Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Ekon.go.id)
Dream - Bukti pandemik Covid-19 telah menghentikan laju ekonomi Indonesia diungkap Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Menurutnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta dan Jawa Barat menurun tajam sejak muncul wabah Corona.
PAD provinsi yang dipimpin Gubernur Anies Baswedan dilaporkan turun sampai Rp31,3 triliun. Sementara Ridwan Kamil yang memimpin Jawa Barat harus kehilangan PAD hingga Rp4,21 triliun.
" Kondisi penurunan PAD sebagai dampak dari yang dialami pemerintah provinsi DKI yang turun Rp31,13 triliun dan Provinsi Jabar Rp4,21 triliun," ujar Menko Airlangga melalui Youtube Kemenkeu, Jakarta.
Untuk menjaga roda ekonomi tetap berjalan, pemerintah memutuskan memberikan dukungan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pemerintah mengaku harus menggelontorkan dana sekitar Rp607,65 triliun dalam rangka pemulihan ekonomi. Dana tersebut masing-masing untuk perlindungan sosial Rp203,9 triliun, insentif dunia usaha Rp120,6 triliun, UMKM Rp123,46 triliun, korporasi Rp53,57 triliun, sektoral dan pemda Rp106,11 triliun.
Kucuran dana tersebut dibutuhkan salah satunya untuk menghindari ekonomi Indonesia terjebak masuk resesi teknikal yang sudah melanda Singapura dan Korea Selatan.
Tindakan luar biasa juga dibutuhkan untuk memulihkan perekonomian di Kuartal 3 dan kuartal 4 tahun 2020.
" Belanja pemerintah secara besar besaran akan didorong sehingga permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha mulai bergerak untuk investasi sehingga diharapkan ekonomi mulai pulih di semester II 2020," kata Airlangga.
Dia menambahkan, pemerintah juga telah menyusun Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diharapkan bisa membangkitkan kembali ekonomi usai pandemi. Langkah terobosan tersebut akan dilakukan bersamaan dengan adaptasi kenormalan baru.
" Pemerintah sudah susun Pemulihan Ekonomi Nasional untuk memulihkan ekonomi pasca Covid-19. Program exit strategy untuk membuka ekonomi bertahap dengan adaptasi kebiasaan baru, melakukan riset dan transformasi ekonomi untuk percepat pemulihan," paparnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya