Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Arabiangazette.com
Inilah saatnya Indonesia bergegas mengembangkan sistem keuangan syariah. Sejumlah analis ekonomi menilai potensi pasar syariah di Tanah Air bakal melejit dan diincar para pemodal negara muslim.
Para analis itu juga menilai bisnis keuangan syariah Indonesia sangat tertinggal jauh dibandingkan pesaingnya. Padahal dengan status negara muslim terbesar dunia, potensi pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air terbuka sangat lebar.
Dream.co.id mengutip laporan Zawya.com, yang menulis bahwa Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia, negeri serumpun yang telah mengembangkan pasar keuangan islami semenjak beberapa dekade yang lalu.
Malaysia bahkan telah bertekad menjadi pusat pasar keuangan syariah terbesar di kawasan regional. Negara tetangga itu bahkan bercita-cita menjadi penerbit obligasi syariah, sukuk, terdepan di dunia.
Jika dibandingkan dengan Malaysia perkembangan ekonomi syariah di Indonesia memang tertinggal agak jauh. Aset perbankan syariah Indonesia baru mencapai 4,9%, jauh dibelakang Malaysia sebesar 21% dan Arab Saudi 23%.
Meski tertinggal, bisnis syariah di Indonesia terus bergerak. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga akhir 2013 memperlihatkan bahwa pertumbuhan aset perbankan sebesar 24,2% menjadi US$ 21,4 miliar.
Aset-aset ini hanya ditangani oleh 11 Bank Umum Syariah (BUS) dan 23 unit usaha syariah milik perbankan konvensional. " Ada alasan kuat mengapa sektor syariah Indonesia akan semakin kuat," ujar laporan tersebut.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah membangun proyek infrastruktur berskala besar. Tak kurang dari US$ 200 miliar dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan. Untuk membiayai megaproyek ini, tak ada instrumen keuangan yang cocok selain sukuk.
Sayangnya, masih ada sejumlah kendala untuk membangun pasar keuangan syariah di Tanah Air. Dukungan kebijakan diperlukan untuk menunjang perkembangan pasar syariah itu.
" Sistem keuangan syariah memang salah satu bagian dari ekonomi Islam. Namun ini memiliki potensi besar di Indonesia," ujar Anggota Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo)
Meski memiliki lembaga keuangan dengan kapitalisasi cukup menyakinkan, bank konvensional masih khawatir untuk membiayai proyek jangka panjang. Hal ini tentu saja berbeda dengan pola pembiayaan sukuk.
Di sisi lain, pemilik modal dari Timur Tengah kini tak hanya menunggu program sukuk Indonesia. Para investor ini juga tengah menelisik bisnis-bisnis yang bisa dimasuki baik lewat inisiatif bisnis, merger, akuisisi, maupun model lainnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya