Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (http://www.iccfwm.com/)
Dream - Kabar kurang menyenangkan datang pada industri pengelola aset syariah. Industri pengelola aset syariah dunia saat ini disebut tengah menghadapi defisit kepercayaan. Inilah yang menghantam pertumbuhan industri tersebut.
Hal ini terungkap dari survei global dari Knowledge, Attitude and Practise (KAP) of the Global Islamic Wealth Management Industry yang dikeluarkan Edbiz Consulting.
" 48 persen responden mengatakan mereka tak pernah menggunakan produk ataupun jasa pengelola aset syariah," kata Group CEO dari HD-Edbiz Group, Dr Sofiza Azmi mengutip laman Zawya, Senin, 28 Maret 2016.
Menurut Sofiza, hal itu terjadi karena publik minimnya pemahaman, kepercayaan, dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan syariah. " Inilah alasan utama kenapa mereka tak mau mendaftar," katanya.
Hal ini pun diakui para pelaku industri keuangan syariah. Sebanyak 18 persen dari 50 pelaku industri keuangan dan ahli terbaik dunia mengaku sulitnya menyakinkan kalangan orang superkaya berinvestasi di produk syariah.
" Ini membuktikan adanya defisit kepercayaan saat berhubungan dengan pengelolaan keuangan dengan cara syariah," katanya.
Saat mencari saran kepada manager investasi profesional dan penasihat keuangan, sekitar 21 responden mengatakan mereka lebih memilih mengelola hartanya sendiri.
Temuan ini menunjukan jika pola pikir generasi baru dari investor muda lebih senang mengelola segalanya sendirian.
" Sikap skeptis generasi Y pada nilai manajer keuangan merupakan dampak langsung dari keyakinan bahwa mereka bisa memperoleh informasi lebih mudah," kata Sofiza.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya