Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Penjual Jamu (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Dream - Presiden RI Joko Widodo mengimbau Gabungan Pengusaha Jamu Tradisional agar serius mengembangkan jamu sebagai produk khas Indonesia. Jamu yang sudah ratusan tahun berkembang di Nusantara mesti menjadi produk yang merepresentasi citra dan persepsi orang mengenai Indonesia.
“ Indonesia itu jamu, harus berani membangun brand itu,” kata Joko Widodo pada Pembukaan Musyawarah Nasional Gabungan Pengusaha Jamu Tradisional Ke-7, seperti dikutip dari laman setkab.go.id, Selasa, 26 Mei 2015.
Mengaku sebagai penggemar jamu, Jokowi mengaku senantiasa bertanya kepada negara-negara lain terkait produk Indonesia yang belum bisa masuk ke pasar mereka. Diakuinya, upaya proteksi di belahan dunia untuk produk makanan maupun kesehatan memang sangat ketat.
“ Inilah yang saya kira harus dipikirkan agar produk-produk ini bisa dikenalkan,” ujar lelaki yang akrab disapa Jokowi.
Menurut Jokowi, produk-produk jamu yang berkaitan dengan aroma terapi biasanya lebih mudah diterima konsumen mancanegara. Namun untuk jamu dalam bentuk minuman memang diakui banyak mengalami kendala di lapangan.
Urusan bahan baku, Jokowi menilai hal itu tidak sulit dikembangkan. “ Mana yang kekurangan sampaikan. Kaya temulawaknya harga naik tapi harus diperbanyak produksinya. Tadi jahe, kemudian cabe jawa, kunyit juga, saya kira itu bukan sebuah produk yang sulit untuk dikembangkan, gampang sekali,” kata Jokowi.
Selama ini, Jokowi memang kerap mendengar keluhan jika luas areal sawah Indonesia kian menyusut dan produksinya semakin berkurang. Namun, dari pengamatan mantan Walikota Solo itu, banyak lahan yang sebetulnya belum dimanfaatkan optimal.
Seperti di Merauke, Papua. Dari satu kabupaten saja terdapat lahan seluas 4,6 juta hektar, yang bisa menghasilkan 35 juta ton padi jika areal tersebut digunakan menjadi kawasan persawahan. Angka ini melebih produksi nasional yang hanya 60-70 ton. " Iini hanya satu kabupaten saja. terdapat empat kabupaten yang kurang lebih kondisinya sama," ujarnya. (Ism)
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia