Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Saat Ini, Rupiah Berada Di Atas Angin. (Foto: Shutterstock)
Dream – Rupiah saat ini berada di atas angin. Dia bisa menekan dolar AS hingga di bawah Rp14.100.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa 8 Januari 2019, pada pukul 09.42, dolar AS berada di posisi Rp14.035.
Kursnya melemah 47,5 poin (0,34%) dari pembukaan yang berada di level Rp14.059. Sedangkan di posisi penutupan, dolar AS berada di level Rp14.082.

Meskipun sedang menguat, mantan menteri keuangan, M. Chatib Basri, mengingatkan pemerintah untuk tidak terlena.
Chatib mengatakan Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, yang akan bersabar untuk menaikkan suku bunga The Fed, memberikan angin baik untuk pasar uang dan nilai tukar, termasuk rupiah.
" Dugaan saya, arus modal masuk akan kembali terjadi dan pasar keuangan akan bergairah," cuit Chatib di akun Twitternya, @ChatibBasri.
Namun, dia memperingatkan pemerintah untuk tidak terlena. Arus modal yang masuk ini akan keluar karena sifatnya " hot money" .
" Jika Fed kemudian kembali lagi menaikkan bunga dengan cepat, situasi 2018 akan kembali berulang," cuit Chatib.
Chatib mengingatkan pemerintah tentang pendalaman finansial. Hal ini bertujuan agar investor lokal bisa dominan. Diperlukan juga kebijakan makroprudensial seperti tobin tax.
Sekadar informasi, tobin tax adalah pajak spesial untuk transaksi mata uang yang dirancang untuk menghukum spekulasi jangka pendek yang berlebihan di pasar mata uang. Kebijakan ini bisa mengatasi gekolak arus modal.
" Selain itu perlu macro prudential dalam bentuk tobin tax, reverse tobin tax, atau aturan lain untuk mengatasi gejolak arus modal," cuit dia.
Chatib melanjutkan, tanpa kebijakan-kebijakan itu, situasi 2018 akan terulang. Kala itu, rupiah tertekan.
" Saya ingat satu obrolan dengan ekonom Carmen Reinhart di Harvard beberapa tahun lalu: 3 kata yang paling berbahaya adalah this time is different. Dan policy maker cenderung berkata itu pada saat arus modal masuk," cuit dia.
" Saatnya bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan dengan menganggap bahwa arus modal yang masuk, rupiah yang menguat, pasar keuangan yang bergairah ini berbeda dengan yang lalu. This is (not) different," cuit dia.
Seperti sy tweet hari Jumat kemarin, pidato Jerome Powell yg menyatakan bahwa Fed “ akan bersabar” dalam menaikkan bunga telah membawa dampak pd penguatan nilai tukar banyak negara termasuk Rupiah
— M. Chatib Basri (@ChatibBasri)January 7, 2019
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya