Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ilustrasi Balita (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa masih banyak ibu yang memberikan susu kental manis (SKM) dibandingkan susu bubuk karena faktor ekonomi yang rendah.
Padahal, SKM bukanlah susu, melainkan minuman yang terbuat dari gula dan susu. Oleh sebab itu, pemerintah menganjurkan agar kental manis tak dikonsumsi oleh balita.
Baca: Susu kental manis bermanfaat jadi kreasi sarapan lezat untuk keluarga
Penelitian tersebut dilakukan oleh Aisyiyah kepada 1268 responden ibu di dua provinsi, yakni DKI Jakarta dan Jawa Barat pada September hingga Oktober 2020.
Adapun wilayah yang menjadi cakupan penelitian tersebut adalah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, serta Jakarta Utara. Lalu, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi.
Dari penelitian itu, ditemukan fakta bahwa satu dari empat balita meminum SKM setiap hari.
Pengetahuan ibu terhadap SKM pada wilayah-wilayah itu menunjukkan, masih ada 341 orang (26,9 persen) yang mengatakan SKM adalah susu. Ibu-ibu inilah yang secara rutin memberikan konsumsi SKM untuk balitanya.
Para ibu bahkan memberikan SKM pada balitanya pada usia 0 hingga 2 tahun. Dari responden ibu di Jakarta, ada 80 balita di usia 0-2 tahun diberikan SKM oleh ibunya. Begitu pula Jawa Barat, ada 105 balita.
“ Mereka memberikan kental manis itu mulai usia di bawah 1 tahun, kalau kita kaitkan dengan kesehatan seharusnya dia masih mendapatkan ASI,” kata Ketua Majelis PP Aisyiyah, Chairunnisa, di Jakarta, Selasa 28 Juni 2022.
Hasil penelitian itu menyebut adanya konsumsi SKM membuat balita mengalami gangguan status gizi. Di DKI Jakarta terdapat 27 balita (16,7 persen) mengalami gizi buruk dan 60 balita (37,4 persen) mengalami kurang gizi.
Sedangkan di Jawa Barat ada 20 balita (11,2 persen) mengalami gizi buruk dan 59 balita (33 persen) mengalami kurang gizi.

Ekonomi menjadi salah satu faktor para ibu lebih memilih SKM, karena produk tersebut terjangkau ada di mana-mana. Namun Chairunnisa mengatakan, SKM sebaiknya tidak dikonsumsi balita karena mengandung gula yang sangat tinggi.
“ Pemilihan SKM ini terjangkau dan ada di mana-mana, sampai ke desa-desa tidak perlu mereka pergi ke minimarket dan seterusnya, dan kebanyakan dalam bentuk sachet dan harganya murah meriah,” terang Chairunnisa.
Penelitian ini juga menghasilkan data anak yang rutin diberikan SKM diduga mengalami efek stunting. Di DKI Jakarta ada 29 anak (17,9 persen) dan di Jawa Barat sebanyak 89 anak (49,7 persen).
“ Memang kita harus meningkatkan pengetahuan dari ibu balita ini, di mana mereka masih menganggap susu kental manis adalah susu dan boleh diberikan kepada balita, dan itu menjadi tantangan kita,” kata Chairunnisa.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan