Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Polisi Jerman (shutterstock)
Dream - Jerman terancam kembali memberlakukan lockdown akibat kesembronoan sebuah perusahaan daging di negara tersebut. Menteri Ketenagakerjaan Jerman, Hubertus Heil melaporkan pabrik pengolahan daging terbesar di Eropa telah menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 setelah 1.500 pegawainya tertular virus corona.
Hubertus mengatakan, seluruh warga di wilayah kawasan pabrik tersebut tertawan oleh ulah kelalaian pabrik menjaga pegawainya yang sebagian besar berasal dari Rumania dan Bulgaria dari paparan virus Covid-19.
Tingkat reproduksi virus corona di Jerman atau R rate kembali melonjak menjadi 2,88 dalam sepekan ini setelah muncul wabah di pabtik Gutersloh di North Rhine-Westphalia (NRW). Sekitar 70 orang telah dikarantina, sekolah dan Taman Kanak-Kanak terpaksa kembali ditutup paling tidak sampai liburan musim panas.
Pemimpin negara bagian NRW, Armin Lachet mengatakan pemerintah telah memberlakukan pembatasan kontak seperti sebelumnya sejak bulan lalu. Armin berjanji penerapan lockdown kali ini akan dikawasi lebih ketat dari sebelumnya.
" Kami kembali menerapkan pembatasan kontak seperti bulan Maret lalu," kata PM Armin Lachet.

Dilaporkan ratusan polisi telah dikerahkan untuk mengawal penerapan lockdon dan karantina ketat terhadap hampir 7000 pekerja pabrik pengolahan daging yang menjadi cluster baru di distrik Gütersloh. Namun, PM Armin Lachet mengatakan, bantuan kemanusiaan akan diberikan pada mereka yang terkena dampak lockdown.
Penerapan lockdown di distrik Gütersloh diakibatkan peningkatan angka peularan yang melonjak menjadi 1500 kasus. Selain terjadi pada pekerja pabrik pengolahan daging, beberapa keluarga juga tertular virus tersebut. Polisi saat ini juga telah membentuk tim khusus melakukan tes COVID-19.

Penerapan lockdown diberlakukan setelah penularan di pabrik pengolahan daging milik keluarga Tönnies meluas di kalangan pekerja akhir minggu lalu.
Otoritas kesehatan berupaya membatasi penularan yang sebagian besar terjadi di kalangan pekerja pabrik. Sejak hari Jumat 19 Juni 2020, pabrik yang berada di distrik Gütersloh itu sudah dilarang beroperasi dan karantina ketat diberlakukan kepada sekitar 7000 pekerja.
Untuk melakukan penelusuran ketat dan mengawasi penerapan karantina, otoritas kesehatan setempat meminta bantuan militer Jerman, Bundeswehr. Polisi dan militer menutup beberapa kompleks perumahan dengan memasang pagar kawat berduri.
Sebanyak 32 satuan tugas yang dibentuk untuk melakukan tes dan penelusuran kontak secara proaktif dengan mendatangi para pekerja di tempat mereka tinggal. Tim itu terdiri dari anggota kantor pemerintahan distrik, anggota dinas kesehatan, Palang Merah Jerman, anggota Bundeswehr dan tim penerjemah.
Pabrik pengolahan daging yang jadi sorotan itu milik keluarga Tönnies, pengusaha pengolahan daging terbesar Jerman. Kepala Distrik Gütersloh, Sven-Georg-Adenauer melontarkan kritik keras kepada pengelola pabrik yang " tidak bekerjasama" dengan baik.
" Pihak pabrik tidak mampu, atau tidak mau, menyerahkan daftar alamat dari 1300 pekerjanya," jelasnya.
Hal ini mempersulit aparat berwenang melakukan tracing pada seluruh pekerja pabrik. Anggota Bundeswehr lalu dikerahkan menjaga areal pabrik dan mengawasi pekerja yang keluar-masuk.
Ketua Tim Manajemen Krisis Covid-19, Thomas Kuhlbusch mengatakan dalam konferensi pers: " Kepercayaan kami terhadap perusahaan Tönnies saat ini adalah nol" .
Setelah berdiam diri cukup lama, pemilik pabrik Clemens Tönnies akhirnya muncul ke publik dan berjanji " akan melakukan perubahan" . Dia juga mengatakan perusahaannya kesulitan memberikan daftar alamat pekerja karena " alasan perlindungan data" .
Menteri Tenaga Kerja Jerman Hubertus Heil menegaskan, perusahaan Tönnies harus bertanggung jawab atas merebaknya infeksi Covid-19 di kalangan pekerjanya.
" Siapa yang melanggar aturan sehingga virus menyebar, harus bertanggung jawab juga secara finansial," katanya hari Minggu 21 Juni 2020 kepada wartawan.
Sebagian besar pekerja pabrik pengolahan daging di Jerman berasal dari Eropa Timur, terutama Rumania, Bulgaria dan Polandia. Pengamat sejak lama mengeritik kondisi sosial para pekerja dari luar Jerman yang tinggal secara berdesakan di apartemen-apartemen kecil. Juga kondisi kerja di pabrik sering dinilai tidak memadai.
(Sah, Sumber: theGuardian)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya