Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ada Tiga Hal Yang Bisa Mendongkrak Pertumbuhan Industri Keuangan Syariah. (Foto: Shutterstock)
Dream - Industri keuangan syariah diprediksi akan tumbuh melambat. Tapi, jika ada koordinasi antarpemangku kepentingan, tiga akselerator ini bisa mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah.
Menurut lembaga pemeringkat saham dan obligasi Standard and Poor's atau S&P, ketiga pendorongnya adalah standaridasi yang inklusif, fintek, dan kesempatan ESG (environment, social, and government).
“ Kalau melihat tingkat pertumbuhan pada 2018 yang sebesar dua persen, kami berpikir tumbuh lima persen pada 2019—2020 akan menjadi asumsi yang tepat,” kata Direktur Senior dan Kepala Keuangan Syariah Global di S&P, Mohamed Damek, dikutip dari Zawya, Senin 23 September 2019.
Pendorong pertama adalah aturan standardisasi yang inklusif. Aturan ini mengenai interpretasi dan hukum syariah. Untuk emiten, standardisasi ini bisa jadi lebih rumit dan waktu yang diperlukan bisa lebih lama.
Proses standardisasi aturan harus setara jika melihat perspektif waktu, upaya, dan harga untuk menerbitkan obligasi konvensional.
Untuk investor, standardisasi ini berarti kemampuan memahami risiko yang berkaitan dengan instrumen dan menghindari situasi di mana mereka kehilangan uang. Atau, pemangku kepentingan menafsirkan ketentuan hukum kontrak sukuk dengan cara tertentu.
Bagi ulama, standardisasi ini berarti mempertimbangkan persyaratan pasar dan memberikan ruang inovasi.
Pendorong yang ke dua adalah fintek. Damek mengatakan, fintek bisa membantu industri keuangan syariah dengan empat cara, yaitu mempermudah dan mempercepat transaksi keuangan syariah, mengurangi risiko keamanan transaksi dan pencurian identitas, bisa menjangkau pasar yang lebih luas, serta teknologi yang bisa memperkuat industri keuangan syariah.
Pendorong yang ketiga adalah peluang ESG. Keuangan syariah dengan pertimbangan ESG bisa membuat keuangan yang berkelanjutan.
“ Regulator dan pembuat kebijakan di seluruh dunia berusaha membangun sistem keuangan yang berkelanjutan. Mereka akan melihat keuangan syariah dan keuangan berkelanjutan berjalan selaras,” kata dia.
Dream - Dalam ekonomi syariah, ada satu instrumen yang khas, yaitu wakaf. Instrumen yang satu ini punya satu hal yang tak ada di produk keuangan syariah lainnya yaitu aset.
Corporate Director Karim Consulting Indonesia, Muhammad Yusuf Helmy, menjelaskan bahwa wakaf tidak boleh menggunakan aset yang habis sekali pakai. Aset yang digunakan itu bersifat berkelanjutan.
" Zakat bisa diberikan dengan beras. Beras habis sekali pakai. Tapi, wakaf bisa pakai beras? Tidak bisa," kata Yusuf dalam " Potensi Pemanfaatan Wakaf Asuransi bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Menara Prudential, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2019.
Menurut Yusuf, aset untuk wakaf saat ini juga mengalmai perkembangan pesat. Dahulu, masyarakat menilai benda yang bisa diwakafkan adalah aset tak bergerak seperti tanah. Tak heran muncul pandangan jika orang yang bisa berwakaf adalah orang kaya yang punya tanah.

Kini, harta yang bisa diwakafkan adalah aset bergerak, seperti logam mulia, kendaraan, dan uang. Semua orang pun juga tak perlu menunggu kaya untuk berwakaf.
Untuk wakaf uang, pengelola wakaf (nazir) " mengkonversi" aset bergerak menjadi sesuatu yang bermanfaat.
" Kini, orang tak harus menunggu kaya. Hari ini bisa saweran bangun rumah sakit, jalan tol," kata dia.
Yusuf mengatakan, untuk tujuan, wakaf terbagi menjadi dua, yaitu wakaf ahli dan wakaf khairi. Wakaf ahli ini bersifat terbatas. Misalnya, lahan wakaf untuk kuburan keluarga.
Wakaf yang satu ini kini menjadi minoritas karena penggunannya yang terbatas.
Yang satu lagi adalah wakaf khairi alias wakaf yang bisa ditujukan bagi pengembangan agama dan masyarakat umum. Semua orang bisa menggunakan aset yang diwakafkan.
" Misalnya, wakaf untuk pembangunan infrastruktur," kata dia.(Sah)
Dream – Tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Keberadaan industri 4.0 dan industri halal diprediksi bisa mengerek angka literasi keuangan syariah.
Dikutip dari keterangan tertulis BNI Syariah, Kamis 28 Maret 2019, berdasarkan data Otositas Jasa Keuangan (OJK), angka literasi keuangan syariah hanya 8 persen. Angkanya lebih rendah daripada literasi keuangan konvensional yang sebesar 30 persen.
Sementara itu, untuk inklusi keuangan syariah baru sebesar 11 persen. Angkanya lebih rendah daripada angka inklusi nasional yang sebesar 30 persen. Padahal, Indonesia merupakan negara yang penduduk Muslim-nya terbanyak di dunia.

Direktur Utama PT BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, mengatakan, keberadaan industri halal dan industri 4.0 bisa meningkatkan literasi keuangan syariah.
" Dengan adanya industri 4.0 dan potensi industri halal yang masih belum banyak berkembang diharapkan bisa meningkatkan literasi dan inklusi industri keuangan syariah," kata Firman dalam pidatonya di kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Surabaya, Jawa Timur.
Selain kuliah umum di UM Surabaya, BNI Syariah juga menggandeng kampus tentang produk dan jasa layanan perbankan, yaitu bisnis pembiayaan.
Perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh Pemimpin BNI Syariah Wilayah Timur, Imam Hidayat Sunarto ,dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sukadiono, di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Imam mengatakan perjanjian kerja sama ini terkait dengan fasilitas pembiayaan BNI Flexi iB Hasanah untuk karyawan dan dosen Universitas Muhamaddiyah Surabaya,
Potensi bisnis pembiyaaan di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini cukup besar. Sampai saat ini, jumlah karyawan dan dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya masing-masing sebanyak 143 dan 294 orang.
Per 2018, BNI Syariah tercatat telah menyalurkan pembiayaan produktif ke Universitas Muhammadiyah Surabaya sebesar Rp25 miliar.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya