Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© MEN
Dream - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong Indonesia dapat mengambil alih posisi Malaysia sebagai pengusaha ekonomi dan keuangan syariah dunia. Global Islamic Economy Indicator Score Rank tahun 2022 lalu menempatkan Indonesia di posisi keempat dunia.
Untuk bisa menjadi pemimpin ekonomi dan keuangan syariah dunia, Indonesia juga harus mengalahkan dominasi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) yang berada di peringkat dua dan tiga.
" Harus diakui Indonesia masih kalah kalau diukur dari Global islamic indicator, Malaysia adalah ranking pertama, dan kita harus bisa mengambil posisi itu," kata Sri Mulyani dikutip dari Liputan6.com, Jumat, 26 Mei 2023.
Sri Mulyani memastikan pemerintah terus berUpaya menjadikan Indonesia berada di peringkat pertama dunia di antaranya dengan menaikkan porsi saham di Islamic Development Bank (IsDB) sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
Dalam Sidang Tahunan IsDB ke-48 pada 12-14 Mei 2023 di Jeddah, Arab Saudi, Dewan Gubernur IsDB secara aklamasi telah menyetujui proposal kenaikan posri saham Indonesia di organisasi tersebut.
Porsi saham Indonesia di Islamic Development Bank saat ini meningkat dari posisi ke-12 menjadi terbesar ke-3.
" Indonesia sebagai ekonomi terbesar di dalam islamic development Bank size GDP kita yang terbesar sekitar US$1.003 triliun itu jauh lebih besar dari Saudi yang merupakan dua tertinggi di sekitar US$823 triliun," ujarnya.
Selain itu, kata Menkeu, Presiden Islamic Development Bank menyebut Indonesia merupakan anggota terpenting dan terbesar, serta memiliki prestasi yang terbaik. Bahkan, negara-negara Islam lain diharapkan mampu mengikuti prestasi kinerja ekonomi Indonesia.
" Ini adalah sebuah pengakuan secara verbal terbuka dari Presiden Islamic Development Bank," ujarnya.
Dengan pengakuan tersebut, Menkeu berharap para profesional ekonomi syariah Indonesia akan menjadinya sebagai batu loncatan untuk bisa berprofesi dan mengukir karirnya di lembaga internasional seperti Islamic Development Bank.
" Jangan jadi jago kandang dalam hal ini," ujarnya.
Ditambahkan Sri Mulyani, Indonesia juga perlu untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Tidak hanya mampu dan paham di bidang ekonomi keuangan saja, SDM juga harus memahami prinsip-prinsip Syariah.
Keahlian tersebut, lanjutnya, akan sangat dibutuhkan untuk meniti karir di lembaga internasional seperti islamic development Bank.
" Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar dan ekonomi terbesar di antara negara-negara Muslim merupakan pasar, dan sekaligus kesempatan untuk membuat ekosistem yang Islami namun juga memiliki kinerja yang menjawab tantangan zaman," pungkasnya.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya