Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dampaknya bukan hanya kesehatan fisik tapi juga kesehatan jiwa masyarakat Indonesia
Dream - Siapa sangka, ternyata 25 persen warga Indonesia mengidap darah tinggi atau hipertensi. Hal ini berdasarkan data temuan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jika dilihat dari total populasi 2016, jumlah penduduk Indonesia ada 261.115.456 jiwa. Dengan begitu jumlah penderita hipertensi di Indonesia mencapai 65,2 juta jiwa.
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan angka tersebut cukup stabil namun bisa dibilang mengkhawatirkan. Sebab, hipertensi bisa jadi pemicu penyakit berat seperti stroke dan jantung hingga kematian mendadak.
"Litbangkes mengatakan angkanya selalu berkisar 25 persen. Kalau saya bisa mengatakan, artinya seperempat dari populasi Indonesia semuanya darah tinggi,” ujar Nila di Jakarta, Rabu, 10 Januari 2018.
Nila menjelaskan populasi yang terus bertambah berdampak pada tingginya jumlah penderita stres. Menurut Nila, orang Indonesia menjalani gaya hidup yang dampak negatifnya langsung bisa dirasakan, seperti masyarakat Jepang.
Misalnya, kepadatan penduduk yang berimbas pada kemacetan, disebut Nila sebagai salah satu penyebab tingginya jumlah penderita hipertensi. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan fisik, namun juga jiwa masyarakat Indonesia.
Untuk itu Kementerian Kesehatan saat ini mendorong agar masyarakat Indonesia tak sungkan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater demi memiliki kondisi mental yang lebih baik.
"Kami fokus juga mengatasi tingkat stres ini. Karena itu rumah sakit jiwa kalau menurut saya seharusnya disebut juga dengan rumah sakit mental. Karena bukan orang yang sakit jiwa saja yang berobat ke sana, tapi kita yang mengalami stres dan depresi. Kita bisa berkonsultasi sebelum jatuh ke yang lebih dalam," ujar Nila.
(Sah/Sumber: Anadolu)