Negara Ini Cemas Karena Wanitanya Masih Banyak yang Perawan

Reporter : Irma Suryani
Rabu, 21 September 2016 12:13
Negara Ini Cemas Karena Wanitanya Masih Banyak yang Perawan
Hanya 36,2 persen laki-laki dan 38,7 persen perempuan mengatakan mereka tidak pernah berhubungan seks.

Dream - Bicara tentang populasi yang menyusut, sebuah survei tentang orang Jepang berusia 18 hingga 34 tahun menemukan bahwa hampir 70 persen laki-laki dan 60 persen perempuan yang belum menikah.

Selain itu, banyak dari mereka tidak pernah berpacaran. Sekitar 42 persen laki-laki dan 44,2 persen perempuan mengaku mereka masih perjaka dan perawan.

Pemerintah pasti tidak akan senang bahwa kelompok tanpa identitas (sexless) ini menjadi simbol Jepang seperti halnya sumo dan sake.

Meski pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe telah berusaha keras untuk meningkatkan angka kelahiran melalui kebijakan kesejahteraan anak, tetapi sepertinya warga Jepang sudah tidak terlalu peduli.

Alih-alih punya keinginan tinggal bersama dan melahirkan anak, jenis kelamin malah tumbuh secara terpisah. Kini ada lebih banyak perawan dari tahun 2010, ketika studi terakhir dilakukan.

Saat itu, hanya 36,2 persen laki-laki dan 38,7 persen perempuan mengatakan mereka tidak pernah berhubungan seks.

Penelitian, yang dirilis Kamis pekan kemarin, dilakukan oleh Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang.

Institut telah melakukan survei yang sama setiap lima tahun sejak 1987. Untuk tahun ini, proporsi laki-laki dan perempuan yang belum menikah yang tidak memiliki pasangan berada di angka 48,6 persen dan 39,5 persen.

 

1 dari 2 halaman

Perbedaan Prinsip Hidup

Tidak ada penyebab dari kesenjangan antara jenis kelamin itu. Kecuali mungkin untuk alasan kuno bahwa laki-laki dan perempuan memiliki pemahaman yang berbeda tentang arti " komitmen" .

Survei yang dilakukan ini tidak membahas tentang mereka yang menjalani hidup dengan sesama jenis secara seksual.

Lembaga ini mengatakan, kenaikan tajam masalah 'jomblo' ini terutama terjadi di antara warga Jepang yang berusia di akhir 20-an. Itulah usia di mana perempuan mengalami masa-masa paling subur.

Ketika ditanya tentang harapan mereka untuk masa depan, masih tampak bahwa keluarga adalah tujuan akhir. Hampir 90 persen responden mengatakan mereka ingin menikah " suatu saat nanti" .

2 dari 2 halaman

Menunda Menikah

30 persen dari 2.706 sampel laki-laki dan 26 persen dari 2.570 responden perempuan mengatakan mereka tidak sedang mencari sebuah hubungan.

" Mereka ingin menikah pada akhirnya. Tapi mereka cenderung menundanya karena mereka memiliki kesenjangan antara cita-cita dan kenyataan," kata Futoshi Ishii, kepala departemen penelitian dinamika populasi Institut.

" Itu sebabnya orang memilih telat menikah atau tetap melajang seumur hidup, sehingga memberikan kontribusi untuk angka kelahiran yang rendah bagi bangsa Jepang."

Meningkatkan angka kelahiran adalah salah satu tujuan yang paling diharapkan dari pemerintahan Abe. Mereka telah menyatakan akan menaikkan tingkat kesuburan dari saat ini 1,4 menjadi 1,8 pada tahun 2025 atau lebih.

Untuk mencapai hal ini Pemerintah Jepang membuat segalanya lebih mudah bagi keluarga yang ingin membesarkan anak-anak mereka, seperti dengan meningkatkan kesejahteraan pendidikan anak-anak.

Sementara itu, penelitian yang sama menemukan bahwa jumlah anak di antara pasangan yang telah menikah selama antara 15 dan 19 tahun rata-rata rekornya rendah yaitu 1,94.

Namun dalam bidang pemberdayaan perempuan, survei juga menunjukkan rasio perempuan yang kembali bekerja setelah memiliki anak pertama mereka melebihi 50 persen untuk pertama kalinya.

Penelitian yang dilakukan pada bulan Juni tahun lalu itu melibatkan 8.754 single dan 6.598 pasangan menikah di seluruh Negeri Matahari Terbit.

(sumber: japantimes.com)

 

Beri Komentar