Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Foto: CDC
Dream - Tak banyak orang tahu selain penyakit cacar biasa, ada juga cacar monyet atau monkeypox. Penyakit ini jadi sorotan karena menyebar di Singapura. Padahal sebelumnya monkeypox hanya ditemui di Afrika.
Terkuaknya monkeypox ini karena ditemukan warga negara Nigeria, berusia 38 tahun, yang tiba di Singapura pada 28 April lalu. Ia positif mengidap monkeypox dan langsung dikarantia.
Dalam sebuah siaran pers Kementerian Kesehatan/ Ministry of Health (MOH), pasien saat ini dalam kondisi stabil dan tengah dikarantina di National Centre for Infectious Diseases (NCID) Singapura.
Kementerian Kesehatan Singapura menggarisbawahi bahwa kasus cacar monyet ini adalah pertama kali di negaranya.
" Pasien melaporkan sebelum kedatangannya di Singapura, ia sempat menghadiri pernikahan di Nigeria. Ia mungkin telah mengkonsumsi daging binatang liar (di pernikahan itu), yang bisa menjadi sumber penularan virus monkeypox," ungkap pernyataan MOH.
Monkeypox adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus, ditularkan ke manusia dari hewan terutama di Afrika Tengah dan Barat.
Proses perpindahan virus terjadi saat seseorang melakukan kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi seperti tikus.
Penularan " dari manusia ke manusia" , dapat terjadi karena adanya kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan penderita. Selain itu, bisa pula disebabkan karena terkontaminasi oleh cairan pasien yang terinfeksi.

Gejala monkeypox termasuk di antaranya adalah demam, sakit, pembengkakan kelenjar getah bening, serta ruam kulit. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia atau bahkan kematian dalam beberapa kasus.
Dalam kasus ini Kementerian Kesehatan Singapura telah memeriksa 23 orang yang sempat memiliki kontak dekat dengan pasien.
Direktur eksekutif NCID, Leo Yee Sin, mengatakan penyakit itu untuk memiliki risiko yang rendah untuk menyebar di Singapura. Ia menambahkan, rata-rata setiap orang yang terinfeksi menularkan virus kepada kurang dari satu orang lainnya.
(ism, Laporan: Afifah Cinthia Pasha/ Sumber: Liputan6.com)
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya