Makannya Banyak Tapi Badan Tetap Kurus, Ini Kata Peneliti

Reporter : Sugiono
Jumat, 7 Agustus 2020 11:12
Makannya Banyak Tapi Badan Tetap Kurus, Ini Kata Peneliti
Banyak yang heran ketika melihat orang yang makannya banyak tapi badannya tetap kurus.

Dream - Berat badan dan kegemukan menjadi perhatian utama bagi sebagian orang, terutama kaum wanita. Ada yang diet ketat untuk menjaga berat badan agar tidak gemuk.

Namun ada juga yang bisa makan secara sembarangan tetapi berat badannya tidak bertambah, dan tubuhnya tidak juga mengalami kegemukan.

Hal ini tentu menjadi pertanyaan bagi sebagian orang. Mengapa golongan yang terakhir itu tidak bertambah berat badannya? Apa rahasia mereka?

1 dari 5 halaman

Ada Berbagai Faktor yang Memengaruhinya

Menurut Kathleen Melanson, seorang profesor ilmu nutrisi dan makanan di Universitas Rhode Island, jawabannya yang tidak sesederhana kelihatannya.

" Ada berbagai faktor yang memengaruhinya, mulai dari genetis, nutrisi, dan bahkan perilaku orang tersebut.

" Sejauh mana masing-masing faktor tersebut berperan pada orang tersebut juga bervariasi," kata Melanson.

2 dari 5 halaman

Persepsi Seolah Makan Banyak Padahal Tidak

Salah satu faktor penting tersebut adalah persepsi, yang bahkan tidak berhubungan dengan metabolisme maupun bentuk tubuh seseorang.

Orang-orang yang terlihat makan apa pun yang mereka suka tapi berat badannya tak bertambah kemungkinan malah makan lebih sedikit dari yang diperkirakan.

Misalnya, orang yang makan es krim setiap hari mungkin mengkompensasinya dengan makan lebih sedikit saat makan di waktu lainnya, atau mengurangi ngemil di sepanjang hari itu.

Contoh lainnya, ketika dia makan pizza, dia mengunyahnya secara perlahan sampai merasa kenyang hingga memutuskan untuk berhenti memakan beberapa potong pizza lagi.

Hal senada juga disampaikan Dr. Frank Greenway, Kepala Medis di Pennington Biomedical Research Center, Australia.

" Jika mengukur kalori orang-orang ini, mereka mungkin tidak makan sebanyak yang Anda pikirkan. Mereka hanya makan makanan padat kalori saat mereka makan; Kebiasaan yang mungkin sulit dilakukan orang lain yang terkadang malah makan berlebihan," katanya.

3 dari 5 halaman

Peran Aktivitas Fisik Meski Tidak Harus Olah Raga

Aktivitas fisik juga bisa berperan meski tidak harus berupa olah raga yang berat atau latihan beban di pusat kebugaran.

" Sebagian orang mungkin bergerak lebih banyak dari yang lainnya, meski mereka belum tentu seorang atlet. Misalnya, mereka yang gelisah dengan jalan mondar-mandir, memiliki pekerjaan yang butuh fisik lebih banyak, atau berlarian hampir seharian mengejar anak-anak mereka," kata Melanson.

Melanson mengatakan terdapat bukti ilmiah bahwa beberapa orang secara genetis tidak bisa diam dan cenderung ingin menggerakkan tubuhnya. Gerakan ekstra tersebut dapat meningkatkan metabolisme tubuh tanpa olahraga.

" Semakin banyak Anda bergerak, semakin banyak mitokondria di dalam sel otot akan meningkat dalam jumlah dan aktivitasnya. Ini seperti pembangkit listrik yang menciptakan energi untuk bergerak. Artinya semakin banyak mitokondria yang dibuat, semakin banyak kalori yang dibakar," jelas Melanson.

4 dari 5 halaman

Keterlibatan Hormon Pengatur Lapar

Selain itu, lanjut Melanson, ada perbedaan fisiologis yang memungkinkan beberapa orang secara alami mampu mengatur jumlah kalori yang mereka konsumsi tanpa melakukan olahraga berlebihan.

" Ini disebabkan gelombang sinyal sistem saraf dan hormon yang bersirkulasi dalam darah kita berinteraksi untuk memberi tahu kapan kita lapar atau kenyang. Ini disebut sistem pengaturan nafsu makan, dan pada beberapa orang sistem ini mungkin lebih sensitif daripada yang lain," kata Melanson.

Salah satu hormon penting yang terlibat dalam sistem ini disebut leptin. Hormon inilah yang membantu mengatur berapa banyak makanan yang ingin kita makan dalam periode waktu tertentu, sebelum kita merasa lapar lagi.

" Orang-orang ini secara otomatis akan mengkalibrasi ulang keseimbangan energi mereka karena sistem sinyal nafsu makan mereka bisa berkata 'Oke, kita punya cukup energi'," kata Melanson.

5 dari 5 halaman

Gen Juga Ikut Berperan

Genetis juga berperan dalam kecenderungan seseorang untuk menjadi gemuk atau menjadi kurus. Hal ini dibuktikan sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan di PLOS Genetics.

Dalam penelitian, para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 250 wilayah DNA berbeda yang terkait dengan obesitas.

Untuk penelitian ini, mereka membandingkan 1.622 orang sehat dengan indeks massa tubuh (BMI) rendah dengan 1.985 orang dengan obesitas berat dan 10.433 orang dengan berat badan normal.

Hasilnya, para ilmuwan menemukan bahwa partisipan yang bertubuh kurus memiliki lebih sedikit gen yang terkait dengan obesitas.

Sumber: Live Science

Beri Komentar