Jalan Berliku Wanita Amerika Temukan Islam

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 13 April 2015 07:01
Jalan Berliku Wanita Amerika Temukan Islam
Julie Rudy memutuskan menjadi mualaf setelah berkenalan dan menjalin hubungan dengan Salah, suaminya.

Dream - Julie Rudy, wanita asal Minnesota, Amerika Serikat memeluk Islam setelah bertemu suaminya seorang Muslim.

Julie lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di mana tidak ada Muslim tinggal di sana. Karena itulah, hingga dewasa, Julie tak pernah tahu apa-apa soal Islam.

Namun ketika bekerja di Universitas Minnesota, Julie sempat bertemu dengan beberapa orang Muslim. Hanya saja Julie merasa segan untuk bercakap-cakap dengan mereka sehingga dia tak mengetahui apa-apa tentang mereka.

Perkenalan Julie dengan Islam diawali saat bertemu secara tak sengaja dengan pria Muslim bernama Salah yang belakangan menjadi suaminya. Julie dan Salah berkenalan saat sedang berada di pusat perbelanjaan South Ville. Hari itu adalah Hari Valentine.

Singkat cerita, Julie memutuskan untuk mempertemukan Salah dengan ibu dan keluarganya. Julie mengundang saudara-saudaranya dan Salah untuk makan malam. Selepas 15 pertemuan dengan Salah, ibu Julie rupanya menaruh simpati pada pria itu.

" Ibu saya adalah seorang yang lembut dan berkata Salah adalah orang sempurna untuk saya," kata Julie.

Walaupun datang dari budaya, agama, dan bahasa yang berbeda dan sebagainya, ibu Julie seolah-olah menyadari bahwa Salah bisa melengkapi hidup Julie, begitu pun sebaliknya.

Temukan : KISAH PARA MUALAF

Melalui Salah, Julie bertemu dengan seorang teman yang beristrikan seorang wanita Muslim Amerika. Kebetulan pula dia ini mahasiswi Universitas Minnesota, tempat Julie bekerja. Dia akan datang mengunjungi Julie di kantornya.

Julie sempat kaget mengetahui wanita tersebut datang mengenakan hijab. Malah kebanyakkan waktu dia mengenakan hijab hitam.

" Saya merasa kurang enak tetapi dia kelihatan ikhlas dan tidak pernah memaksa."

Sejak itu, Julie sering berbincang-bincang dengan wanita itu. Kadang-kadang dia bersama Salah dan teman-temannya pergi ke luar untuk makan siang dan berbincang tentang banyak hal, termasuk Islam. Dari sinilah, Julie merasa dia mulai mengenal Islam.

Saat mempelajari agama Islam, Julie bertemu dengan teman lama yang sekarang menjadi seorang Muslim selama setahun terakhir dan mengenakan hijab. Tak mau membuang kesempatan, Julie bertanya banyak soal agama Islam kepada temannya itu.

Namun Salah mengatakan bahwa ada banyak hal yang harus dipelajari jika ingin mendalami Islam. Salah bahkan mengatakan meski dia terlahir Muslim, tapi dia juga tidak tahu segalanya tentang Islam. Salah kemudian mengajak Julie ke ulama yang memiliki pengetahuan luas tentang Islam.

Julie pun akhirnya memahami bahwa dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan. Maka seandainya kita melakukan sesuatu yang tidak benar, maka itu adalah tanggung jawab kita. Salah juga memberi motivasi dan meyakinkan Julie.

Setelah mempelajari Islam dan merasa mantap dengan pilihannya, Julie akhirnya mengucapkan syahadat dan menjadi MUALAF

" Sebenarnya saya tahu apa yang telah saya lakukan, hanya saya masih tidak mengetahui banyak tentang Islam."

Julie merasa masih harus banyak belajar tentang agama Islam, dan terutama sekarang, jika dia menoleh ke belakang, Julie mengakui bahwa dia hanya sekedar menyentuh permukaannya saja.

1 dari 4 halaman

Perjalanan Gadis Cantik Rusia Peluk Islam

Perjalanan Gadis Cantik Rusia Peluk Islam

Dream - Namanya Katia. Dia berkebangsaan Rusia. Katia memutuskan untuk menjadi Muslimah setelah terjadi peristiwa serangan teroris 11 September di Amerika Serikat.

Sebelum menjadi mualaf, Katia adalah seorang yang religius meski dia sendiri mengaku dibesarkan dari keluarga yang tidak terlalu religius.

Melihat keluarganya yang sangat jarang beribadah, Katia berniat mencari informasi tentang agamanya sebanyak-banyaknya.

Temukan : KISAH PARA MUALAF

Dia mencoba berbagai aliran dalam agamanya. Katia juga menghadiri banyak ibadah dari aliran-aliran agama tersebut. Katia awalnya merasa nyaman dengan beberapa orang yang ia temui.

Namun Katia hanya menemui pemandangan sesaat ketika ia beribadah dengan orang-orang tersebut. Setelah keluar dari ibadah, orang-orang yang ia temui tersebut kembali pada kepribadian dan perilaku yang sama sekal berbeda saat mereka beribadah.

Hal itu membuat Katia benar-benar ingin menjauh dari kelompok- kelompok agama tersebut. Perasaannya terus mendorong Katia untuk mencari tahu agama lainnya.

Katia sering menjumpai Muslimah di Rusia. Tapi mereka tidak mengenakan hijab. Hanya satu teman Muslimah Katia yang pernah dia temui memakai hijab.

Dia bernama Salaly. Jujur, Katia tidak pernah menghormati agama Salaly atau merasa bangga bahwa dia mempunyai kepercayaan tersebut.

Katia juga punya teman-teman Muslim, tapi mereka tidak religius. Saat mempelajari Islam, Katia tertarik dengan satu pandangan yang menyebutkan jangan menilai Islam dengan melihat Muslim karena Islam adalah satu.

Tetapi Muslim begitu banyak dan dianut oleh berbagai bangsa, budaya dan semuanya mengamalkan Islam lewat cara mereka sendiri.

Bagi kebanyakan orang di dunia Barat, Muslimah identik dengan niqab, berpakaian hitam, dan tidak bisa keluar. Dan perkara terbesar Katia adalah kesenjangan budaya tersebut dan apa yang terjadi pada 11 September.

Ketika itu Katia masih di sekolah menengah. Semua orang mulai menuding dan menyebarkan kabar angin tentang teroris yang mengatasnamakan Islam. Dan secara otomatis, mereka percaya bahwa Islam merupakan puncak segala masalah di dunia, terutama 11 September.

Namun Katia melihat orang hanya mengandalkan pada apa yang disampaikan teman mereka, keluarga mereka atau media. Maka, orang yang berada dalam frame pikiran ini akan mengatakan 'mereka membenci kita, maka kita harus membenci mereka, kita harus melakukan sesuatu'.

" Hal itu membuat saya sedih. Alhamdulillah, saya pikir sesuatu itu terjadi memang karena sesuatu sebab. Saya tidak akan mengatakan bahwa ada sesuatu buruk yang menimpa saya," kenang Katia dikutip Dream.co.id dari laman OnIslam.net, Rabu 1 April 2015.

Katia melihat orang lain menyalahkan umat Islam karena peristiwa tersebut, termasuk dirinya. Tetapi Katia ingin tahu mengapa dia menyalahkan umat Islam.

Katia pun mulai membaca dan melakukan banyak penelitian tentang Islam. Dia menanyakan banyak hal kepada banyak orang.

" Namun saya tidak akan bertanya 'apakah Islam mengajarkan orang untuk meledakkan diri sendiri'. Itu adalah pertanyaan konyol dan tidak masuk akal sama sekali," katanya.

Semua itu membuat Katia melakukan pencarian serius tentang agama Islam. Katia tidak harus studi ilmiah tentang Islam, tidak perlu pergi dan menghadiri kelas-kelas.

Yang dibutuhkannya adalah buku lima halaman yang mengajarkan dia tentang mengapa harus memakai hijab, kesucian, dan ajaran-ajaran Islam yang mudah dimengerti.

Setelah mantap mempelajari Islam, Katia akhirnya memutuskan untuk menjadi Muslimah dan mengubah namanya menjadi Aisha. (Ism)

2 dari 4 halaman

Takjub dengan Alquran, Profesor Amerika Peluk Islam

Takjub dengan Alquran, Profesor Amerika Peluk Islam

Dream - Profesor James D. Frankel mengisahkan tentang perjalanannya mendapatkan hidayah. Profesor mata kuliah Perbandingan Agama di University of Hawaii, lahir di New York, Amerika Serikat pada 1969.

Sejak kecil, James dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang sekuler. Namun sejak berusia 13 tahun, James memilih untuk menjadi komunis setelah ia membaca buku Karl Marx.

James pernah punya teman yang berasal dari Pakistan bernama Mansour. Sahabatnya itu memberinya Alquran dan menyuruhnya membaca. Mungkin inilah saat pertama kali James bertemu seorang muslim.

" Aku tidak ingin kau masuk neraka," kenang James menirukan ucapan Mansour dikutipDream.co.id dari OnIslam.net, Kamis 19 Maret 2015.

Tentu saja, saat itu James tidak percaya sama sekali tentang neraka. Namun, ia menghormati Mansour dengan mengambil Alquran itu dan menyimpannya di rak buku di rumahnya.

Beberapa tahun kemudian, James kuliah di Washington. Dia juga mulai meninggalkan pikiran komunisnya dan mempertanyakan tentang makna hidup yang menghantuinya sejak kecil.

James sering bertanya dalam hati 'untuk apa manusia dilahirkan, ke mana setelah mati dan mengapa manusia menderita'.

Temukan : KISAH PARA MUALAF

Suatu hari ia mendapat kabar neneknya meninggal dunia. James sangat sedih dan dia pun terbang ke New York untuk menghadiri pemakamannya.

Saat itulah James punya kesempatan bertanya tentang makna hidup pada seorang Rabbi. Namun dia tidak mendapat jawaban sama sekali.

James mulai mencari Tuhan dan jawaban dari semua pertanyaan yang menghantuinya sejak kecil. Ia kemudian kembali ke New York sebelum semester baru dimulai. Suatu hari, James berjalan-jalan di Times Square yang sangat berbeda dari saat ini.

" Saat itu, di sana Anda bisa menemukan banyak pengkhotbah dari berbagai macam aliran agama," kata James.

James suka mengobrol dengan salah satu dari mereka tentang agama, tentunya dengan sikap skeptis.

Dia melihat ada sekelompok pria kulit hitam yang memakai jubah sedang berdoa. James pun menghampiri mereka untuk bertanya tentang ritual yang sedang dilakukan.

Namun salah seorang dari mereka mengatakan James tidak boleh bergabung karena dia adalah setan.

Menurut pengkhotbah kelompok itu, semua kulit putih adalah setan. Namun James berargumen jika memang dia setan, kenapa selalu ingin tahu tentang Tuhan.

Sesampai di rumah, James teringat dengan Alquran yang diberikan sahabatnya, Mansour enam tahun lalu. Dia segera membuka dan membaca Alquran tersebut. James tidak menemukan indikasi ayat yang menyatakan ia adalah setan atau orang kulit putih lain adalah setan.

Dia terus membaca hingga tertidur dan membaca lagi saat dia terbangun keesokan harinya.

Ternyata, Alquran memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya sejak kecil. Alquran menjelaskan dengan sangat jelas tentang fakta penguasa alam semesta. James merasa seolah-olah penulis kitab tersebut berbicara langsung kepadanya.

" Saya belum pernah merasakan sesuatu seperti ini. Saya tanpa sadar menangis saat membacanya. Bulu kuduk saya kadang merinding dibuatnya. Saat itu saya benar-benar seperti sedang membaca tulisan Tuhan," kata James.

Pada Januari 1990, James bertemu dengan teman-teman SMA untuk reuni. Mereka berkumpul sambil membicarakan kegiatan masing-masing.

Kemudian, seorang teman bertanya pada James tentang keyakinannya. James menjawab bahwa dia sekarang telah percaya Tuhan. Selama ini, teman-teman James tahu bahwa dia adalah seorang komunis.

Teman James itu kemudian menanyakan Tuhan yang mana. James menjawab hanya ada satu Tuhan di dunia ini. James menjelaskan bahwa di dalam Alquran yang dipelajarinya disebutkan bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Mendengar penuturan tersebut, Mansour langsung memberitahu bahwa James telah menjadi Muslim.

Awalnya James tertawa karena dia menganggap Mansour lah yang muslim sedangkan dia hanya orang yang percaya pada satu Tuhan.

Namun James diberitahu jika sudah mengakui tidak ada yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya berarti dia muslim. James pun kaget.

Selama enam atau delapan bulan pertama kehidupannya sebagai seorang muslim yang baru, dia melakukan semuanya dengah hanya berbekal panduan Alquran dan buku-buku yang diberikan Mansour.

3 dari 4 halaman

Ilmuwan Besar Perancis Peluk Islam Usai Bedah Mumi Firaun

Ilmuwan Besar Perancis Peluk Islam Usai Bedah Mumi Firaun

 Dream - Maurice Bucaille lahir, besar dan sepenuhnya menimba ilmu di Perancis. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, ia belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Prancis. Kemudian menjadi dokter bedah terkenal dan terpintar yang pernah dimiliki Perancis modern. Namun, cerita keislamannya mampu mengubah hidupnya dan belakangan menginspirasi banyak orang.  Siapa sang profesor yang sangat dikagumi ini, silahkan baca profilnya di sini http://bit.ly/1sAIenf

Apa saja hasil karya sang profesor dan bagaimana cara dia menemukan Islam dan dunia keilmuan silahkan baca pada tautan ini http://bit.ly/1lTkkf3

Sebagaimana luas diketahui, Perancis terkenal sebagai negara yang tertarik dengan arkeologi dan budaya. Di akhir 80an, Perancis meminta Mesir untuk mengirimkan mumi Firaun untuk dilakukan serangkaian eksperimen dan penelitian.

Akhirnya mumi penguasa Mesir terkenal tersebut akhirnya tiba di Perancis. Mumi itu kemudian dipindahkan ke ruangan khusus di Monument Center. Para arkeolog, ahli bedah dan ahli anatomi mulai melakukan studi tentang mumi ini dalam upaya untuk menyelidiki misteri Firaun.

Dokter bedah senior dan ilmuwan yang bertanggung jawab atas studi tentang mumi Firaun adalah Profesor Maurice Bucaille. Sementara proses restorasi mumi berjalan, Maurice Bucaille sibuk dengan pikirannya. Dia mencoba untuk menemukan bagaimana Firaun ini meninggal.

Temukan : KISAH PARA MUALAF

Saat larut malam, ia menemukan penyebabnya. Sisa-sisa garam yang terjebak dalam tubuh mumi itu adalah bukti bahwa ia meninggal karena tenggelam dan mayatnya segera diangkat dari laut.

Terlihat jelas juga bahwa para pendeta Mesir kuno buru-buru mengawetkan tubuh Firaun tersebut. Tapi Maurice bingung dengan sebuah pertanyaan, bagaimana tubuh ini--dengan mengesampingkan tubuh mumi lainnya dari Mesir kuno-- tetap utuh hingga sekarang meskipun tubuhnya pernah tenggelam di laut.

Maurice sibuk memikirkan hal tersebut ketika seorang koleganya mengatakan tidak usah terlalu dipikirkan karena dalam Islam disebutkan bahwa Firaun ini memang tenggelam.

Pada awalnya, dia sangat tidak yakin dan menolak pernyataan tersebut. Dia mengatakan penemuan seperti itu hanya bisa diketahui melalui peralatan komputer canggih dan modern.

Maurice bertambah tercengang setelah koleganya yang lain mengatakan bahwa Alquran, kitab suci yang dipercaya muslim, menceritakan kisah tenggelamnya Firaun dan mengatakan tubuh tersebut akan tetap utuh meskipun ia telah tenggelam.

Maurice bertambah terkejut dan terus bertanya-tanya, dari mana kitab suci umat Islam ini mendapatkan data, sementara mumi tidak ditemukan sampai 1898. Selain itu Alquran juga baru diturunkan kepada umat Islam selama lebih dari 1400 tahun setelah peristiwa tenggelamnya Firaun. Mengingat juga sampai beberapa dekade lalu seluruh umat manusia termasuk muslim tidak tahu bahwa orang Mesir kuno mengawetkan firaun mereka?

Maurice Bucaille terjaga sepanjang malam menatap tubuh Firaun, berpikir mendalam soal kitab Alquran yang secara eksplisit mengatakan bahwa tubuh ini akan utuh setelah tenggelam.

" Bisakah dipercaya nabi Muhammad SAW tahu tentang ini lebih dari 1.000 tahun yang lalu ketika saya baru saja mengetahu hal itu?" pikir Maurice.

Pikiran Maurice malam itu dipenuhi berbagai pertanyaan dan keheranan tentang kitab suci umat Islam. Mumi tersebut akhirnya dikembalikan ke Mesir.

Jatuh Cinta dengan Alquran

Tapi, karena ia sudah tahu tentang kisah Firaun versi muslim, ia segera berkemas dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi. Kebetulan saat itu di Arab Saudi diadakan konferensi medis yang dihadiri banyak ahli anatomi muslim.

Di sana, Maurice memberitahu mereka tentang penemuannya, yaitu bahwa tubuh Firaun itu tetap utuh bahkan setelah ia tenggelam. Salah satu peserta konferensi membuka Alquran dan membacakan surat Yunus ayat 92 yang menceritakan kisah bagaimana tubuh Firaun diangkat dari dasar laut dan atas izin Allah, tubuh itu akan utuh agar menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang berpikir sesudahnya.

Dalam kegembiraannya setelah dibacakan ayat tersebut, Maurice berdiri di hadapan para peserta konferensi berkata, 'Aku telah masuk Islam dan percaya pada Alquran ini'.

Saat kembali ke Perancis, Maurice Bucaille menghabiskan 10 tahun melakukan studi tentang kesesuaian fakta-fakta ilmiah saat ini dengan yang disebutkan dalam Alquran. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Alquran tidak pernah bertentangan dengan satupun fakta ilmiah.

Dia kemudian menulis buku tentang Alquran yang menghebohkan seluruh negara-negara Barat, dengan judul, " The Bible, The Qur’an and Science, The Holy Scriptures Examined In The Light Of Modern Knowledge."

Buku tersebut sangat laris dan bahkan ratusan ribu eksemplar telah diterjemahkan dari bahasa Perancis ke bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Persia, Turki dan Jerman. Bahkan tersebar ke hampir semua toko buku di seluruh dunia.

" Sisi ilmiah dari Alquran telah mengejutkan saya sejak awal, karena pikiran saya belum pernah melihat begitu banyak kajian ilmu pengetahuan yang disuguhkan secara akurat. Itu semacam cermin bagi ilmu pengetahuan yang sudah ditulis dalam buku-buku ilmiah selama ini padahal ilmu tersebut sudah ada lebih dari 13 abad yang lalu," sepenggal catatan kata pengantar Maurice dalam bukunya.

(Sumber: Onislam.net)

4 dari 4 halaman

Kagum Pemakaman Sederhana Raja Saudi, Pria Italia Peluk Islam

Kagum Pemakaman Sederhana Raja Saudi, Pria Italia Peluk Islam

Dream - Saat meninggal, raja-raja dan bangsawan Arab Saudi selalu dimakamkan dengan penuh kesederhanaan. Tidak ada upacara penghormatan atau iring-iringan ribuan pelayat mengantarkan ke makam.

Setelah disalati di masjid, jenazahnya dimakamkan secara sederhana tanpa batu nisan mewah bertuliskan namanya di sebuah pemakaman umum.

Begitu juga dengan proses pemakaman Raja Fahd, pendahulu Raja Abdullah yang juga baru meninggal Jumat dini hari 23 Januari 2014.

Raja Fahd meninggal pada 21 Agustus 2006 di Jeddah. Saat itu, Raja Fahd dimakamkan secara sederhana di pemakaman umum Al-Qud di Riyadh, sehari setelah ia meninggal dan dihadiri oleh pemimpin dunia.

Proses pemakaman sederhana Raja Fahd yang disiarkan secara langsung ke seluruh jaringan televisi di dunia itu ternyata meninggalkan kesan yang dalam bagi seorang pria di Italia.

Temukan : KISAH PARA MUALAF

Menurut laporan harian berbahasa Arab Al-Riyadh, pria itu sangat terkesan dengan kesederhanaan proses pemakaman seorang raja yang seharusnya dilaksanakan secara megah dan mewah.

Pria tak disebutkan namanya itu memeluk Islam setelah menyaksikan proses pemakaman Raja Fahd melalui televisi.

Menurut ulama Abdullah Al-Malik kesederhanaan pemakaman Raja Fahd telah meninggalkan efek dramatis bagi semua orang di dunia.

Saat pemakaman Raja Fahd, ada seorang rakyat biasa yang juga meninggal dan akan dimakamkan. Mereka akhirnya dimakamkan di pemakaman yang sama.

Kata Malik, kesetaraan dalam Islam inilah yang mungkin memberi dampak psikologis kepada seseorang non-muslim dan mendorongnya menjadi mualaf.

" Saya telah membaca beberapa buku Islam dan mendengar banyak kaset Islam selama beberapa tahun terakhir, mereka tidak bisa menggoyahkan saya. Tapi pemakaman raja sederhana mengguncang saya dan saya berubah pikiran," ujar Malik mengutip kata-kata si pria berusia 62 tahun itu.

Malik menambahkan media Islam kedepannya harus fokus pada kisah yang berhubungan dengan toleransi dan kesetaraan dalam rangka menarik lebih banyak orang kepada Islam.

(Sumber: Arab News)

Beri Komentar
Umroh Bareng Pasangan, Foto Sweet Selebritis Saat di Mekkah