Masjid Agung Banten: Karya Empu Majapahit Hingga Menir Belanda

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 8 Oktober 2014 11:01
Masjid Agung Banten: Karya Empu Majapahit Hingga Menir Belanda
Masjid ini dirancang oleh tiga arsitek dengan latar belakang berbeda. Usianya hampir lima ratus tahun. Menjadi saksi jatuh bangun Kesultanan Banten, termasuk pergolakan nasional melawan Belanda.

Dream - Masjid Agung Banten memiliki sejarah panjang. Usianya hampir lima ratus tahun. Menjadi saksi jatuh bangun Kesultanan Banten, termasuk pergolakan nasional melawan kolonial Belanda yang menjajah Nusantara.

Cikal bakal masjid ini dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kesultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati. Pembangunan masjid yang terletak di Desan Banten Lama ini kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Maulana Yusuf.

Bangunan Masjid Agung Banten berada di atas komplek seluas 1,3 hektare yang dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter. Pada sisi tembok timur dan masing-masing terdapat dua buah gapura di bagian utara dan selatan yang letaknya sejajar. Bangunan Masjid menghadap ke timur berdiri di atas pondasi masif dengan ketingggian satu meter dari halaman.

Bangunan ruang utama berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 25 X 19 meter. Lantai terbuat dari ubin berukuran 30 X 30 sentimeter berwarna hijau muda dan dibatasi dinding pada keempat sisinya. Dinding timur memisahkan ruang utama dengan serambi timur. Pada dinding ini terdapat empat pintu yang merupakan pintu masuk utama.

Masjid ini dirancang oleh tiga arsitek dengan latar belakang berbeda. Pertama adalah Raden Sepat, arsitek dari Majapahit yang juga merancang Masjid sudah berpengalaman menangani pembangunan masjid, seperti Demak dan Cirebon.

 Masjid Agung Banten: Karya Empu Majapahit Hingga Menir Belanda

Masjid Agung Banten

Arsitek ke dua adalah Tjek Ban Tjut. Arsitek asal China ini memberikan ciri khas pada bagian atap bangunan utama yang bertumpuk lima. Bantuk ini mirip dengan pagoda China. Karena jasanya dalam membangun masjid itu Cek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna.

Arsitek ke tiga adalah Hendick Lucasz Cardeel. Mualaf Belanda ini berperan membangun paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti masjid. Paviliun dua lantai yang dinamakan Tiyamah ini berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno. Dulu, paviliun ini digunakan untuk menggelar rapat dan kajian Islam. Namun sekarang digunakan untuk menyimpan barang-barang pusaka.

Bangunan lain yang mempesona adalah bagian menara yang terletak di sebelah timur masjid. Menara mercusuar dengan bentuk segi delapan ini terbuat dari batu bata, tingginya sekitar 24 meter dan diameter bagian bawah sekitar 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Menara mercu suar ini juga dirancang oleh Lucasz Cardeel.

Berita-berita Belanda tentang Banten hampir semuanya menyebut menara ini selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau. Karena memang pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat dari atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 kilometer. Karena jasanya, Lucasz Cardeel diberi gelar Pangeran Wiraguna.

Di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Sumber:

Kementerian Agama

Wikipedia

(Ism)

Beri Komentar
Adu Akting dengan Betari Ayu, Alvin Faiz Ceritakan Respon Sang Istri