Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Sejumlah mahasiswa Arab Saudi yang berkuliah di kampus-kampus Amerika Serikat mengalami sulitnya menjalankan puasa. Ini lantaran fasilitas yang ada tidak mendukung mereka untuk menjalankan ibadah, salah satunya jarangnya masjid.
Padahal, para mahasiswa tersebut harus berpuasa lebih lama. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang terpaksa berbuka puasa di dalam kelas lantaran masih ada jadwal kuliah.
Pengalaman ini dituturkan oleh salah seorang mahasiswi dari Alkhobar Dalal Al-Harbi. Dia yang berkampus di Universitas Colorado ini mengaku merasakan benar bagaimana suasana berbuka puasa di sana.
" Sekilas tidak ada yang berbeda antara menghabiskan waktu berbuka bersama keluarga di rumah dengan merindukan suara azan yang dikumandangkan muazin," ujar Dalal, dikutip Dream.co.id dari arabnews.com, Selasa, 23 Juni 2015.
Dalal mengaku begitu merindukan suasana Ramadan di rumahnya di Arab Saudi. Di Amerika, dia bahkan harus merindukan lantunan suara azan.
Untuk mengobati rasa rindunya, Dalal kerap menghabiskan waktu dengan menyiapkan makanan berbuka puasa untuk para muslim di masjid setempat.
Hal yang sama diutarakan oleh mahasiswa Montana, Mazen Al Ahmadi. Dia mengaku berpuasa di Montana merupakan tantangan yang begitu berat.
" Tantangan terbesar yang saya hadapi di sini adalah waktu puasa yang lama dan jam belajar yang ketat, ujian dan tugas, juga makanan yang harus dipilih secara selektif," kata dia.
Sejumlah ibadah selama Ramadan, termasuk salat Tarawih membutuhkan banyak masjid. Tetapi, hanya ada sekitar 1.209 masjid di seluruh Amerika Serikat.
Hal ini membuat beberapa mahasiswa sampai menyewa kamar hotel yang khusus digunakan untuk salah Tarawih berjamaah.
Meski demikian, banyak mahasiswa meyakini Ramadan merupakan bulan kesempatan bagi setiap muslim untuk merekatkan tali silaturahim, terutama bagi para mahasiswa yang berkuliah di luar negeri.
" Kesulitan yang saya hadapi adalah waktu dan suhu yang tinggi, tetapi untuk mengatasinya saya selalu menghabiskan waktu buka puasa dengan berkumpul bersama teman-teman dan kerabat," ungkap mahasiswa pascasarjana Eiad Makki.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya