Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Bullying Di Sekolah (Foto: Shutterstock)
Dream - Usia-usia anak yang duduk di bangku SD dan SMP menjadi kelompok umur yang paling rentan terkena bullying. Kebanyakan perilaku ini memang dilakukan di masa remaja.
Bullying sendiri merupakan tindakan merendahkan dan mengintimidasi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang bertujuan untuk menyakiti atau mengontrol orang lain. Hal
ini termasuk dalam kategori kekerasan baik secara verbal dan non verbal.
Menurut Yasinta Indrianti, seorang psikolog, ada 3 hal yang menjadi latar belakang seseorang melakukan tindakan bullying.
" Alasan pertama karena mereka sedang mencari jati diri, munculnya rasa ingin berkompetisi dan eksis, tapi tidak disertai dengan kondisi emosional yang tetap, sehingga mereka tidak bisa
mencari solusi yang tepat," ujarnya di Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis, 2 November 2017.
Adanya keinginan untuk mencari jati diri membuat remaja, cenderung membuat kelompok atau geng yang memiliki persamaan dengan dirinya. Saat mendapat kelompok yang sesuai para remaja ini kemudian ingin tampil dan eksis, salah satu caranya dengan menekan remaja lain yang dianggap lebih lemah.
" Alasan kedua, pola asuh orangtua juga berpengaruh, karena bisa membuat mereka sulit mengkomunikasikan diri. Anak-anak dalam masa remaja mengalami perubahan dan itu tidak
mudah, tidak nyaman. Ketidaknyamanan itulah yang harusnya bisa dikomunikasikan. Kalau keuarganya tidak komunikatif, mereka cenderung lari ke teman, ke gengnya yang membuat dia nyaman," imbuhnya.
Untuk yang terakhir adalah faktor lingkungan. Menurut Sinta, faktor ini paling berperan penting. Jika hidup di lingkungan yang cenderung berlaku negatif, misalnya ada perilaku bullying dan
justru dibiarkan atau ditonton, akan memperkuat perilaku itu menjadi berulang.
" Kadang-kadang korban bullying itu jadi sasaran empuk untuk ditonton. Sehingga saat ada bullying, justru disoraki, didukung, karena enak untuk ditonton," tegas Sinta.
Ketiga hal ini lah yang saling berkesinambungan menjadi rantai bullying yang tidak bisa putus. Mulai sekarang, terus jaga pola komunikasi dalam keluarga. Ingatkan anak-anak agar menghindari perilaku mengintimidasi tersebut dan ajarkan juga agar terhindar dari bullying.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia