Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Peserta HAS (halalmui.org)
Dream - Transaksi halal dunia pada 2030 akan mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,6 triliun. Jumlah tersebut setara dengan total makanan di seluruh dunia. Para pelaku usaha diharapkan dapat mengisi potensi pasar tersebut dengan sebaik-baiknya.
Demikian disampaikan oleh Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Lukmanuls Hakim, pada pembukaan Bali International Training on Halal Assurance System (HAS), di Denpasar, Bali, Selasa 24 Mei 2016.
Lukman menegaskan, Sistem Jaminan Halal (SJH) bukan kebijakan yang menghambat pengembangan produk bagi para pelaku usaha yang sudah memiliki sertifikat halal MUI. " Justru dengan SJH kami ingin mengajak kita semua untuk senantiasa menjaga kualitas produk dengan mengimplementasikan SJH," kata dia, sebagaimana dikutip Dream dari laman halalmui.org.
" Para pelaku usaha boleh mengganti atau menambahkan bahan baku dalam produksinya, namun harus tetap sejalan dengan panduan SJH. Selama kita menerapkan prinsip SJH dengan konsisten maka kepercayaan konsumen juga akan semakin meningkat," tambah Lukman.
HAS merupakan program pelatihan halal berskala internasional. Diikuti oleh 104 peserta dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Jepang, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, India, Singapura, Filipina, Australia, China, Selandia Baru, Swiss, Belgia, dan Argentina.
Sementara, peserta dari Pilmico Foods Corporation Filipina, Leizel Panangit, mengaku tertarik dengan materi pelatihan yang diberikan dalam pelatihan ini. Sebagai perusahaan yang sudah memiliki sertifikat halal MUI dan ingin terus memperluas pasarnya di Indonesia, Leizel merasa perlu mengikuti pelatihan teknis tentang halal.
" Terlebih lagi, kami juga akan memperkenalkan produk baru kami ke pasar Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim," kata Leizel yang perusahaannya bergerak di industri tepung terigu.
Untuk meningkatkan kompetensi dan pemahaman para pelaku usaha di bidang halal, utamanya dalam hal Sistem Jaminan Halal (SJH), Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) pada Selasa 24 - 26 Mei 2016 menyelenggarakan " Bali International Training on Halal Assurance System (HAS)" .
Pelatihan ini berlangsung mulai 24 Mei hingga 26 Mei 2016. Dengan pelatihan tersebut peserta dapat meningkatkan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sertifikasi halal, titik kritis haram pada bahan baku, hingga bagaimana LPPOM MUI melakukan pemeriksaan pada implementasi SJH di perusahaan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya