BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
Daging Kambing Digantung/ Foto: Shutterstock
Dream - Bagi kamu penyuka daging kambing, pasti sering mendatangi warung atau kedai sate/ tongseng/ gulai kambing. Biasanya, di bagian depan terdapat dinding kaca, lalu terlihat deretan daging kambing yang digantung.
Banyak yang mengira kalau digantungnya daging hanya untuk menarik pembeli, atau memberi tahu kalau kedai menggunakan daging segar. Sebenarnya tak hanya itu, tapi ada banyak alasan lainnya.
Chef Harry Nugraha, seorang ahli masak profesional, lewat akun Instagramnya @chefharrynugraha, mengungkap penyebab daging kambing selalu digantung. Penasaran?
1. Otot daging jadi rileks
Binatang apa pun yang disembelih, ototnya akan mengencang setelah mati, termasuk kambing. Jika langsung diolah, maka tidak enak disantap. Otot yang kencang membuat daging kambing jadi keras. Nah, untuk merelaksasi otot tersebut, caranya adalah dengan menggantung selama beberapa waktu, baru kemudian diolah.
Kambing jika dicekoki banyak air maka dagingnya akan sangat berair. Biasanya disebut daging gelonggongan. Dengan digantung, bisa dikurangi kadar airnya dan langsung mengalir lebih cepat, sehingga tidak menempel di permukaan.

3. Perkuat rasa dan tekstur daging
Dengan digantung, protein dalam daging kambing akan mendapat paparan oksigen, hal ini akan memperkuat rasanya. Tekstur daging juga jadi lebih empuk, karena ototnya sudah rileks dan kadar air berkurang banyak. Saat diolah dengan cara apapun, rasa dan teksturnya pun jadi lebih nikmat.
Dream - Kuah santan kaya rempah, aromanya begitu menyeruak. Dimasak menggunakan anglo yang tingkat panas bara apinya diatur lewat kipas tangan rotan. Isinya berupa tulang-tulang kambing yang masih memiliki sedikit daging menempel.
Hidangan ini merupakan primadona kota Solo, Jawa Tengah, apalagi kalau bukan Tengkleng. Makanan yang berbahan dasar tulang kambing ini adalah salah satu mahakarya masyarakat Solo yang sudah turun temurun.

Mengapa tulang dan bukan daging? Dahulu, daging kambing adalah barang istimewa. Tentu saja yang bisa menikmati hanyalah para bangsawan, priyayi dan juga kompeni-kompeni Belanda.
Para pekerja, tukang masak, dan masyarakat biasa hanya bisa menikmati tulang kambing yang masih ada sedikit daging yang menempel. Meski hanya tulang kambing dan beberapa tempelan daging, masyarakat Solo mengolahnya jadi sajian masakan yang begitu istimewa.
Tak heran, hingga kini tengkleng jadi sajian spesial dan selalu dicari. Bukan hanya disukai masyarakat Solo tapi juga daerah lain. Baca selengkapnya cerita kenikmatan tengkleng di Diadona.id.
Dream - Nangka muda dengan warna cokelat kehitaman disajikan di kuali tanah liat. Begitu legit saat digigit. Disajikan dengan suwiran ayam, telur pindang dan kerecek. Membayangkan sajian gudeg memang bisa langsung memantik selera makan.
Menu gudeg kini bisa dengan mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia, meskipun yang otentik berada di Yogyakarta. Sahabat Dream pernah berpikir mengapa menu tersebut dinamakan gudeg?

Jawabannya harus menelusuri sejarah Mataram. Konon, makanan yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini sudah ditemukan pada masa Kesultanan Mataram Islam pertama. Jauh lebih dulu sebelum nama kota Yogyakarta digaungkan.
Saat Kesultanan Mataram Islam hendak didirikan, Panembahan Senopati harus 'babat alas' Alas Mentaok atau membuka hutan belantara untuk memperluas wilayah. Panembahan Senopati memerintah prajurit Mataram dan semua kaum pekerja untuk 'babat alas' yang kelak bernama Yogyakarta ini.
Ternyata, di Alas Mentaok tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa. Pada saat itu, nangka yang sudah matang langsung dimakan dan kelapa muda juga dijadikan minuman. Nangka muda dan kepala tua tentunya sayang dibiarkan begitu saja.

Akhirnya nangka muda dan santan yang dihasilkan dari kelapa dimasak dan dijadikan santapan bersama. Banyaknya prajurit dan pekerja pada saat itu, mengharuskan memasak dalam jumlah yang banyak.
Dimasaklah nangka muda dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar.
Baca kelanjutan kisah gudeg di Diadona.id
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
