Kabin Canggih Airbus Deteksi Kebiasaan Penumpang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 9 Oktober 2018 09:16
Kabin Canggih Airbus Deteksi Kebiasaan Penumpang
Teknologi apa, ya, namanya?

Dream – Penumpang pesawat terbang khususnya buatan Airbus di masa depan bakal dipantau ketat maskapai. Tenang pemantauan ini dibuat untuk meneliti kebiasaan yang sering dilakukan penumpang selagi berada di dalam kabin.

Pabrikan pesawat dari Eropa ini baru membuat teknologi baru yang bisa memantau kebiasaan para penumpang. Teknologi baru buatan Airbus ini adalah kabin yang terhubung (connected cabin).

Dikutip dari laman NZ Herald, Selasa 9 Oktober 2018, teknologi ini merupakan sensor nirkabel yang terpasang di badan pesawat. Sensor ini bisa mengumpulkan kebiasaan penumpang dan penggunaan fasilitas, seperti toilet.

Sensor itu ditanam di kursi penumpang untuk mengetahui seberapa sering penumpang pergi ke kamar mandi, melihat pola tidur, dan berapa kemiringan kursi penumpang.

Sensor juga ditanam di layar TV untuk menganalisis tipe media apa yang popular bagi penumpang. Teknologi ini disematkan dengan harapan Airbus bisa memberikan konten yang terbaik sesuai dengan kebutuhan penumpang.

Peralatan pengawasan ini juga membantu kebersihan ruangan, seperti sensor kamar mandi yang mengizinkan awak kabin untuk mengetahui fasilitas mana yang perlu dibersihkan dan produk mana yang perlu diganti.

1 dari 1 halaman

Bagaimana dengan di Dapur?

Di dapur, ada juga sensor yang tertanam di unit troli. Sensor ini juga menunjukkan stok mulai menipis serta makanan dan minuman apa saja yang paling populer.

Perangkat pintar itu dipasang di oven dan pemanas minuman. Teknologi ini akan memungkinkan awak kabin memanaskan barang ketika mereka tak berada di area dapur.

Lalu, ada juga di bawah dek yang bertujuan untuk memantau suhu dan kapasitas angkut. Tujuannya agar menjaga hewan peliharaan tetap aman dan barang berharga tak rusak.

Sekadar informasi, produsen pesawat yang berbasis di Touluse, Perancis ini membeberkan teknologinya di acara AEX Expo di Boston, Amerika Serikat. Sayangnya tak ada kabar kapan teknologi ini bisa diluncurkan.

(ism, Laporan: Erisa Riyana/ Sumber: www.nzherald.co.nz)

Beri Komentar