Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
(FOTO: Pixabay /Jupilu)
DREAM.CO.ID - Pengalaman ini pasti pernah dirasakan para ibu yang sering kali dibuat pusing kepala dengan polah si kecil. Si kecil tiba-tiba menjadi lebih rewel, menangis, atau tantrum saat sedang bersama ibunya.
Padahal saat si buah hati ditinggalkan bersama ayah, nenek, atau pengasuh, dia terlihat jauh lebih tenang. Siapa yang tak kesal melihat dua pemandangan yang berbeda itu?
Fenomena ini ternyata bukan hal aneh. Bahkan hal itu cukup umum terjadi pada banyak anak. Pertanyaannya, mengapa si kecil justru menunjukkan sisi lain saat bersama ibu?
Sebelum ibu terlanjur emosi hingga bikin suasana rumah jadi tidak menyenangkan, yuk pelajari dulu alasan anak lebih rewel ketika bersama ibu seperti dikutip Dream dari laman Tanoto Foundation.
1. Ibu Adalah Tempat Ternyaman
Salah satu alasan utama adalah karena ibu adalah safe zona nyaman bagi anak. Anak merasa paling nyaman dan aman saat bersama ibu. Si kecil tidak ragu mengekspresikan semua emosi, baik itu sedih, marah, kecewa, atau lelah.
Spesialis perkembangan anak di universitas ternama UCLA, Karen Dudley mengungkapkan bahwa si kecil rewel saat dekat ibu karena dia merasa sang ibu merupakan tempat ternyaman. Ia bisa bebas mengekspresikan segala emosi dan perayaan.
2. Anak Masih Belajar Mengelola Emosi
Anak usia dini belum memiliki kemampuan mengelola emosi seperti orang dewasa. Saat merasa lelah, lapar, bosan, atau stres, mereka belum bisa mengungkapkan dengan kata-kata, sehingga muncullah perilaku seperti menangis atau marah.

3. Ibu adalah Sumber Perhatian Utama
Sejak bayi, ibu adalah sosok yang paling banyak hadir dan memberikan perhatian. Ketika anak mulai merasa kurang diperhatikan . Misalnya ibu sedang sibuk dengan pekerjaan rumah atau adik bayi, si kecil bisa jadi mencari perhatian dengan cara yang ekstrem, termasuk tantrum.
4. Ibu Beri Respon Cepat
Rupanya, anak kerap menganggap jika sang ibu kerap memberikan respons yang sangat cepat saat ia rewel. Hal tersebut dirasa sangat menguntungkan sehingga sering dimanfaatkan si kecil.
5. Anak Ingin Menguji Batas
Tanpa disadari, anak juga belajar mengontrol lingkungannya. Ia bisa jadi sedang mencoba memahami batasan, apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Ketika bersama ibu, ia merasa punya ruang untuk bereksperimen, termasuk dalam menunjukkan perilaku yang lebih drama.
![]()
Saat anak rewel, ibu tak perlu panik. Rewel saat bersama ibu adalah bagian dari perkembangan emosi yang normal. Yang penting adalah bagaimana kita meresponnya dengan tenang, penuh empati, dan tetap memberi batasan yang jelas.
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?