Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi/ Foto: Pixabal/iqbalstock
DREAM.CO.ID - Di era media sosial yang serba terhubung ini, berbagai momen kehidupan kerap dibagikan secara luas, termasuk momen tumbuh kembang anak. Fenomena ini dikenal dengan istilah sharenting, gabungan dari kata 'sharing' (berbagi) dan 'parenting' (pengasuhan).

Sekilas terlihat wajar, namun jika tidak dilakukan dengan bijak, sharenting bisa berdampak panjang terhadap privasi anak. Dirangkum dari berbagai sumber, simak penjelasan hingga risiko dari fenomena sharenting berikut ini.
Sharenting merujuk pada kebiasaan orang tua yang membagikan foto, video, atau cerita tentang anak mereka ke media sosial. Mulai dari foto USG, hari pertama sekolah, hingga momen lucu atau memalukan, semua seakan menjadi 'konten'.
Menurut sejumlah studi, sebagian besar anak sudah memiliki jejak digital bahkan sebelum mereka bisa berbicara. Ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah anak-anak punya hak atas privasinya sendiri?
Tidak dapat dipungkiri, sharenting juga memiliki sisi positif. Bagi banyak orang tua, media sosial adalah cara untuk menyimpan kenangan atau berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan teman yang jauh. Ada pula yang menjadikannya sarana berbagi tips parenting atau saling mendukung sesama orang tua.
Fenomena sharenting ini juga ada risikonya. Tentu risiko ini harus menjadi perhatian para orangtua agar anak lebih aman dan nyaman di kemudian hari.
Privasi Anak Terancam
Anak-anak tidak bisa memilih apa yang ingin mereka bagi. Konten yang tampak lucu bagi orang tua bisa jadi memalukan atau mengganggu di kemudian hari.
Potensi Penyalahgunaan
Foto dan data anak bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab, termasuk untuk tujuan komersial atau bahkan kejahatan digital seperti pencurian identitas.
Tekanan Sosial Sejak Dini
Anak yang tumbuh dengan sorotan publik bisa mengalami tekanan sosial, kehilangan ruang untuk berkembang secara alami, atau merasa 'harus tampil baik' demi citra keluarga.
Untuk para orang tua, ada beberapa tips agar tetap bisa berbagi tanpa mengorbankan hak anak. Yakni pikirkan dampaknya di masa depan. Tanyakan pada diri sendiri, " Apakah anak saya akan nyaman dengan ini ketika dewasa?" .
Kemudian, hindari konten sensitif. Jangan unggah foto anak tanpa pakaian, sedang menangis hebat, atau berada dalam situasi memalukan. Lalu gunakan fitur privasi dan lupa meminta izin kepada anak bila orangtua ingin mengunggah sesuatu tentang sang buah hati.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya