Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© 2025 Https://www.unsplash.com
DREAM.CO.ID - Di era serba digital seperti sekarang, orang tua sering khawatir anak lebih banyak terpaku pada layar daripada mengasah kemampuan berpikirnya. Padahal, logika adalah salah satu fondasi penting dalam tumbuh kembang anak—bukan hanya untuk akademis, tapi juga untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Kabar baiknya, melatih logika anak ternyata nggak harus ribet atau mahal. Ada banyak cara simpel dan fun yang bisa dilakukan di rumah.
Siapa sih yang nggak kenal puzzle? Mainan klasik ini jadi favorit banyak orang tua karena terbukti melatih konsentrasi sekaligus logika. Saat anak berusaha menyusun potongan puzzle atau balok menjadi bentuk tertentu, otaknya bekerja untuk mengenali pola, mencoba-coba, sampai akhirnya menemukan solusi yang pas.
Bukan cuma seru, kegiatan masak juga bisa jadi media belajar. Misalnya, saat anak membantu menghitung jumlah sendok tepung atau mengukur air. Dari situ, mereka belajar konsep takaran, urutan, bahkan sebab-akibat: kalau adonan terlalu banyak air, kue bisa bantat.
Membacakan buku bukan sekadar soal mendengarkan dongeng. Coba tambahkan diskusi ringan, misalnya bertanya: “ Menurut kamu, kenapa si kelinci bisa menang dari kura-kura?” atau “ Kalau kamu jadi tokoh ini, apa yang bakal kamu lakukan?” Pertanyaan sederhana semacam itu mengasah kemampuan anak dalam berpikir kritis dan menilai situasi.
Tebak-tebakan ternyata bukan sekadar lucu-lucuan. Permainan ini melatih otak anak untuk mencari hubungan antar-kata, memahami makna ganda, dan mengasah kreativitas berpikir. Bahkan, tebak-tebakan logika sederhana bisa bikin mereka belajar berpikir step by step.
Terdengar sepele, tapi meminta anak untuk mengelompokkan mainan sesuai warna, bentuk, atau ukuran adalah latihan logika yang efektif. Misalnya, “ Boneka disusun di rak atas, mobil-mobilan di bawah.” Dari sana, mereka belajar klasifikasi dan keteraturan.
Jangan salah, permainan jadul seperti congklak, ular tangga, atau petak umpet juga penuh manfaat. Selain melatih strategi, permainan ini mengajarkan anak memahami aturan, menunggu giliran, dan berpikir untuk mengambil langkah terbaik.
Ajak anak jalan sore di taman atau sekadar duduk di halaman rumah. Tanyakan hal-hal sederhana seperti, “ Kenapa daun jatuh ke bawah, bukan ke atas?” atau “ Kenapa langit berubah warna saat sore?” Pertanyaan kecil ini memancing rasa ingin tahu sekaligus melatih logika mereka untuk mencari jawaban.
Belajar Logika Itu Bukan Hafalan
Psikolog anak kerap menekankan bahwa melatih logika sebaiknya dilakukan lewat aktivitas sehari-hari, bukan paksaan. Proses ini lebih ke membiasakan anak berpikir, bertanya, dan menemukan hubungan sebab-akibat dari sesuatu yang mereka alami langsung.
Dengan membiasakan kegiatan sederhana ini, anak bukan cuma belajar berpikir logis, tapi juga lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Pada akhirnya, logika yang terlatih akan membantu mereka mengambil keputusan lebih bijak, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya