Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Mengemudi (Foto: Shutterstock)
Dream – Di Indonesia, terutama di kota-kota besar, berkendara dengan mobil-mobil pribadi menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat juga menghabiskan banyak waktunya untuk berkendara di jalan raya.
Saat berkendara, segala kemungkinan bisa terjadi karena kita sebagai pengguna jalan juga berbagi dengan orang lain.
Terlebih, ketika mengendarai mobil pribadi di jalanan ibukota.
Dilansir dari Hyundai, Jumat 24 Agustus 2018, supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan oleh siapapun, peganglah prinsip bahwa kamu tidak pernah tahu perangai ataupun kondisi pengemudi lain di sekitar.
Ketika sedang mengemudi, tak perlu cepat emosi. Kalau mengemudi dalam keadaan marah, akal sehat menjadi tertutup amarah yang meledak-ledak.
Akibatnya, timbul hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi atau bahkan merugikan kita sendiri. Penyesalan muncul setelah kerugian terjadi baik di sisi orang yang marah sendiri maupun pengguna jalan lain.
Salah satu upaya mencegah timbulnya amarah berlebihan ini adalah dengan menerapkan perilaku berkendara defensif. Bahasa kerennya adalah defense driving.
Defense driving merupakan teknik mengemudi yang mengutamakan pencegahan terhadap terjadinya berbagai kemungkinan buruk. Hal ini artinya juga kesediaan berbagi di jalan raya, mulai dari pejalan kaki sampai pengemudi truk dan bus harus dihormati.
Perilaku mengemudi defensive driving juga mengajarkan pengemudi untuk mengelola emosinya dan tak mudah terpancing perilaku pengemudi lain.
Utamanya adalah hindarilah berkendara secara agresif, karena cepat tidak berarti harus agresif! cara mengemudi yang agresif dapat mencelakakan bukan hanya diri sendiri, tapi juga pengguna jalan lain.
Kemacetan juga sering memicu kelelahan dan jadi tak sabar. Meski begitu kamu bisa menjadi pengendara yang lebih sabar dengan tidak berpindah-pindah lajur atau menyerobot jalur kendaraan lain.
Usahakan berkendara dengan pikiran yang positif agar tidak membuat lelah badanmu. Kalau badan tidak lelah, emosi bisa diredam. Perilaku mengemudi tanpa emosi berlebihan ini seharusnya mulai diterapkan sehari-hari oleh semua pengguna jalan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya