6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
© MEN
Dream - Fuel pump menjadi salah satu komponen penting di dalam kendaraan bermotor. Komponen ini bertujuan untuk memompa bahan bakar dari tangki ke mesin.
Salah satu masalah yang sering dialami pengendara kendaraan bermotor pada komponen fuel pump adalah tersumbat oleh endapan kotoran dari tangki atau kualitas bahan bakar yang buruk.
Sebelum masalah menjadi semakin pelik, kamu sebaiknya mengenali tanda-tanda fuel pump bermasalah.
Dikutip dari Suzuki, Selasa 24 Desember 2019, gejala yang dirasakan oleh seluruh pemilik mobil umumnya hampir seluruhnya sama. Saat kendaraan sedang melaju atau jalan, mesin akan terasa brebet atau terasa kosong (tidak mau berakselerasi) walaupun pedal gas sudah diinjak. Hal ini kemudian berlanjut pada mesin yang akan mati secara tiba-tiba.
Penyebab mesin brebet ini adalah tekanan pompa yang turun drastis. Pasokan bahan bakar ke ruang mesin tak cukup untuk melakukan pembakaran yang sempurna.
Karena itulah, mesin akan terasa " ndut-ndutan" sebelum pada akhirnya mati total dan sudah atau tidak bisa dihidupkan lagi.
Tapi, tidak sedikit juga yang tidak menemukan gejala brebet terlebih dulu, karena mesin langsung mati secara tiba-tiba.
Dream - Musim hujan mulai melanda Indonesia. Pada musim ini, curah hujan yang tinggi dan angin kencang akan mengguyur beberapa wilayah, misalnya di Jakarta.
Seperti yang terjadi pada Selasa 17 Desember 2019, Jakarta diguyur hujan deras hingga banjir menggenangi beberapa titik di sana.
Untuk menghadapi banjir, pengendara mobil harus lebih waspada saat berkendara, terutama kendaraan yang menggunakan transmisi otomatis. Saat harus melewati banjir, ada trik khusus yang harus diperhatikan agar mobil lancar melewatinya.
![]()
Dikutip dari Auto2000, Kamis 19 Desember 2019, Kepala Bengkel Auto2000 Cilandak, Suparna, mengatakan gaya berkendara saat membawa mobil matik dan manual saat melewati genangan air sangat berbeda. Perlu keahlian khusus untuk mengoperasikan mobik matik agar tetap aman.
“ Paling utama adalah jangan sampai panik dulu. Tetap fokus dan jaga putaran mesin,” kata Suparna.
Suparna meminta pengemudi memastikan air tidak terlalu dalam. Maksimal, tingginya setengah roda. “ Lebih dari itu, lebih baik jangan dilewati,” kata dia.
Ketinggian air yang lebih dari roda akan berisiko air masuk ke dalam mobil, ini juga berlaku untuk mobil bertransmisi manual. Setelah memastikan air masih bisa dilewati, pengendara mobil matik baiknya memindahkan tuas transmisi menggunakan gigi rendah.
“ Mudahnya, sebelum melewati genangan atau banjir, lihat dulu mobil lain yang melintas di lokasi yang sama, perhatikan juga apakah ada lubang yang membuat ketinggian air berbeda. Bila sudah yakin, baru jalan,” kata dia.
Pada mobil matik konvensional, arahkan tuas transmisi ke posisi L atau 1. Suparna mengingatkan agar transmisi tidak dipindah selama melewati genangan air agar kecepatan mobil bisa terjaga serta putaran mesin tetap bertahan.
Tujuannya agar sisa gas buang yang keluar dari knalpot bisa menahan laju air masuk ke dalam ruang mesin lewat jalur pembuangan.
Jangan lupa mengatur jarak berkendara dengan mobil depan, karena bila terlalu dekat maka pengendara akan menginjak rem dan membuat RPM turun.
Ketika pedal gas kembali ditekan, tenaga akan turun dan bisa berbahaya bila sudah dalam genangan air karena mobil bisa kehilangan momentum.
Sebenarnya ada cara lain untuk menjaga rpm tetap pada putaran tertentu pada mobil matik, yakni dengan menekan pedal gas dan rem secara bersamaan. Teknik ini kerap dinamakan stall speed.
Tapi, dia tidak menganjurkan pemilik mobil matik menggunakan teknik tersebut karena berisiko rusak.
“ Teknik ini memang ampuh, tapi juga berisiko. Saya sendiri tidak menyarankan pengguna mobil matik Toyota menggunakan teknik tersebut, karena bisa membuat kerugian,” kata dia.
Dia mengatakan kampas rem akan cepat aus. “ Begitu juga kampas kopling transmisi otomatis,” kata Suparna.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
