Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fitur Cruise Control Kini Banyak Ditemukan Di Mobil-mobil. (Foto: Wikipedia)
Dream – Fitur cruise control tak lagi menjadi perangkat eksklusif di kendaraan mewah. Beberapa mobil seharga Rp200 juta kini sudah dilengkapi dengan peranti penambah kenyamanan ini.
Sebut saja Mitsubishi Xpander Ultimate, Suzuki S-Cross, dan Honda Jazz RS.
Dikutip dari Oto.com, Rabu 19 Juni 2019, fungsi utama cruise control adalah menjaga laju kendaraan dalam kecepatan yang diinginkan. Tanpa perlu menekan pedal gas, ECU memiliki sebagai fungsi tambahan untuk terus memonitor dan mengatur kecepatan, sesuai keinginan pengemudi.
Kecepatan pun menyesuaikan kontur jalan. Jika ditetapkan 100 km per jam, dalam keadaan menanjak atau menurun, kecepatan konstan tetap harus dijaga.
Tapi, banyak pengemudi awam tak mengetahui cara kerja fitur ini. Ada saja pemilik mobil yang memiliki fitur cruise control yang belum pernah menggunakannya sama sekali.
Jika paham kegunaannya, niscaya rasa nyaman berkendara akan bertambah. Khususnya, ketika melewati Tol Trans Jawa dan Trans Sumatera. Kaki akan terbebas dari rasa lelah.
Lalu, bagaimana cara menggunakannya?
Pertama, harus paham cara mengaktifkan dan menonaktifkan dulu. Lambang cruise control umumnya berupa lingkaran penggambaran speedometer. Umumnya tombol berada di setir. Ada yang ditambahkan tulisan LIM atau sekadar CRUISE saja.
Saat menekan tombol, sebuah indikator menyala di panel instrumen. Tapi cruise control belum aktif menahan kecepatan.
Tombol Cruise diikuti juga tombol bergambar ;ambang plus dan minus. Salah satunya berbarengan juga dengan fungsi “ Set” untuk mengaktifkan cruise control. Saat ditekan, kecepatan langsung terjaga walau pedal gas dilepas.
Guna tombol + dan - tadi untuk menaikkan dan menurunkan kecepatan yang diinginkan. Kalau ingin mematikan cruise control, tekan tombol “ cancel”. Bisa juga menginjak pedal rem atau gas.
Cruise control paling standar di mobil mainstream, hanya sebatas menjaga dan mengatur batas kecepatan. Sistem lebih canggih bisa ditemui di mobil kelas premium. Ada sebutan Adaptive Cruise Control, yang membuat mobil secara otomatis menyesuaikan kecepatan sesuai arus lalu lintas.
Peranti dalam sistem tentu bertambah, seperti radar, kamera dan sensor. Semuanya untuk mendeteksi kendaraan persis di depan, lalu memprogram laju mengikuti kecepatannya dan menjaga jarak yang sudah ditentukan.
Lebih canggih, cruise control yang masuk fase teknologi semi-autonomous. Teknologi bernama Nissan ProPilot Assist, Subaru EyeSight dan Audi Traffic Jam Assist, menggabungkan adaptive cruise control dengan teknologi semi-otonom. Selain kecepatan, kemudi juga bekerja otomatis menjaga mobil dalam jalurnya. Tapi teknologi ini belum tersedia di Indonesia.
Untuk diketahui, Cruise Control tak bisa digunakan di semua tingkat kecepatan. Umumnya, fitur ini baru bisa aktif setelah kecepatan berada di atas 30 -50 kpj (tergantung model kendaraan).
Penggunaan paling pas di jalan bebas hambatan atau tol. Memungkinkan juga di jalan raya biasa, dengan syarat kondisinya sepi tanpa banyak kendaraan lain maupun pejalan kaki. Tentu suasana yang sulit ditemui. Lagipula pemakaiannya tidak lama bila sering bertemu persimpangan.
Begitu pula di jalan tol. Jalan yang lengang dan panjang sangat tepat untuk mengaktifkan cruise control. Asalkan konsisten di jalurnya, berkendara jadi rileks dan kaki bisa beristirahat sejenak dari pedal. Tapi tetap harus waspada untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Ketika lalu lintas mulai ramai, ada baiknya segera menonaktifkan sistem.
Mobil yang melaju otomatis pastinya melenakan. Tapi kewaspadaan seharusnya tidak berkurang. Kaki sepatutnya selalu siap agar tidak terlambat mengerem.
Tangan pun juga siaga tanpa kendurkan kewaspadaan sedikit pun. Jangan pula terlalu mempercayai teknologi sepenuhnya. Bagaimanapun, sistem diprogram oleh manusia. Malfungsi mungkin saja terjadi.
Sama halnya jalanan bersalju, tertutup es dan hujan deras. Sebab cruise control bakal selalu mengintervensi laju mobil ke kecepatan yang ditentukan. Misal di jalanan menanjak, mesin berakselerasi untuk menjaga kecepatan stabil.
Otomatis gigi berpindah turun dan putaran mesin melonjak. Tercipta momentum kehilangan traksi ban. Akibatnya, mobil bisa melintir dan berakibat fatal.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya