Curhat Menggetarkan Nilam Sari, Istri Bos Kebab Baba Rafi

Reporter : Ratih Wulan
Rabu, 1 Maret 2017 13:01
Curhat Menggetarkan Nilam Sari, Istri Bos Kebab Baba Rafi
Nilam Sari mencurahkan seluruh isi hatinya, membangun bisnis selama 14 tahun. Serta mengajak para perempuan untuk berani bangkit.

Dream - Pengakuan blak-blakan Nilam Sari mengungkap kisah di balik perceraiannya dengan Hendy Setyono mengagetkan banyak pihak. Sebab selama ini, mantan pasangan suami istri itu dikenal sebagai pendiri usaha Baba Rafi yang menginspirasi banyak orang.

Melalui akun Facebook, Nilam mengaku diselingkuhi. Pengakuan itu mendapat beragam respons. Menurut dia, banyak pihak yang mendukung keputusannya untuk berbicara di depan publik. Namun tak sedikit yang menyalahkannya karena dianggap gegabah dan bisa merugikan bisnis yang telah mereka bangun.

Dengan mencurahkan isi hatinya itu, ternyata Nilam malah banyak menemui perempuan yang bernasib sama. Banyak perempuan yang juga diselingkuhi, ditinggalkan oleh suaminya dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), namun tak berani untuk berbicara.

Melalui sebuah tulisan panjang, akhirnya perempuan cantik ini mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini. Perjuangan membangun bisnis selama 14 tahun, mulai dari gerobak hingga berkembang seperti sekarang ini.

Bagiamana ia, sebagai perempuan Jawa dididik untuk menghormati suami dan mengabdikan diri untuk keluarga. Seperti apa curhatan lengkapnya, simak di bawah ini:

Sejak saya mulai memberanikan diri untuk jujur atas apa yang sedang saya hadapi, saya mendapatkan 2 jenis respons. Yang pertama, adalah pihak yang menyalahkan saya dan yang ke dua adalah para perempuan yang juga mengalami apa yang saya alami, diselingkuhi, ditinggalkan oleh suaminya dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), namun tak berani untuk berbicara.

Banyak yang bertanya mengapa saya harus membuka aib saya? Apa kamu tidak memikirkan keluargamu? Bagaimana dengan anakmu? Bagaimana dengan orangtuamu? Bagaimana dengan bisnismu? Kenapa kamu menghancurkan bisnismu? Tim saya di kantor juga bertanya, mengapa Bu Nilam melakukan ini? Apakah mau menghancurkan Baba Rafi dan tidak memikirkan hajat hidup orang banyak?

1 dari 2 halaman

Harus Berani Bicara

Saya mengerti kekhawatiran dan perhatian teman-teman semua. Tentu saja saya juga memikirkan apa yang Anda semua khawatirkan, karena apa pun yang terjadi, dampaknya akan langsung saya rasakan sendiri. Tetapi, saya merasa saya berhak mendapatkan keadilan.

Saya merasa sangat tersiksa dalam hubungan rumah tangga saya selama 3 tahun terakhir ini. Saya sudah mencoba melakukan semua usaha yang terbaik untuk bertahan dan menyelamatkan rumah tangga saya. Sungguh saya sudah mencoba semuanya. Akhirnya saya sampai di titik yang memaksa saya untuk mengambil langkah ini. Saya tidak punya pilihan lain.

Hari jumat kemarin, saat saya melakukan press conference, bertubi-tubi pesan masuk dari perempuan-perempuan yang ternyata juga merasakan penderitaan yang sama seperti saya.

Ada yang ditinggal suami H-1 waktu melahirkan, ada yang ditinggal suami dengan istri mudanya dan tidak dinafkahi, bahkan ada yang menjadi korban KDRT, suaminya selalu meminta maaf tapi kambuhan. Jujur ini membuat saya miris. Di Indonesia, yang katanya negara dimana ekualitas gender sudah sangat diakui dan semua serba terbuka, justru lingkungan kita sendiri yang selalu menghakimi dan melabeli atas nama " DEMI" : demi nama baik, demi pencitraan, demi status, demi anak, dan demi lainnya.

Saat perempuan bicara, perempuan lalu dianggap menggila, tidak masuk akal, berlebihan, emosi atau lagi PMS dan berbagai sebutan lain untuk wanita yang speak up serta berusaha mendapatkan keadilan dan haknya.

Perempuan adalah manusia yang sama-sama diciptakan oleh Allah SWT. Kita punya hak yang sama untuk bekerja, mendapatkan gaji, keadilan, hak, dan status. Jika perempuan bicara, ini bukan untuk menghancurkan atau mencari sensasi. Kita berani bersuara karena memang kita berhak. Tentu saja, setelah kita juga sudah melakukan kewajiban kita sebagai perempuan dan peran kita lainnya.

Saya Nilam, membangun usaha saya Baba Rafi 14 tahun yang lalu. Saya bekerja keras setiap hari. Dari pinggir jalan kaki lima dengan gerobak mirip martabak pun saya lakoni. Setahun sakit tipes 2x saya jalani dengan ikhlas. Selama 14 tahun, ini semua saya jalani, DEMI apa? Demi KELUARGA saya!

Saya dari keluarga Jawa dan terbiasa dididik untuk melayani. Suami, anak, keluarga besar, Insya Allah saya berusaha melayani dengan sebaik-baiknya. Saya mencari uang tapi juga berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Saya wanita mandiri, tetapi bukan berarti hak-hak saya kemudian tidak dipenuhi dan saya tidak butuh. Saya menuntut hak saya. Apalagi setelah saya dizolimi. Saya berhak untuk diperlakukan dengan baik, saya berhak dicintai, saya berhak dinafkahi, dan yang paling penting saya berhak dicintai dan merasa berharga.

Dengan kenyataan bahwa saya membantu membesarkan bisnis hingga mapan sambil merawat anak-anak ini saja, seringkali saya menyalahkan diri saya, apakah saya yang menghancurkan rumah tangga ini? Apakah saya tidak cukup berusaha? Apakah semua karena saya tidak sabar? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib ibu-ibu di luar sana yang banyak terbatas oleh masalah keuangan dan masalah-masalah lainnya.

Saya menyuarakan ini karena saya prihatin. Selama ini yang kita dengar, perempuan harus selalu menerima, berbakti kepada suami (suami yang seperti apa dulu), jangan membuka aib, perempuan harus nerimo, terima saja, " Kalau perempuan lain bisa diperlakukan seperti itu kenapa kamu tidak bisa menerima?" (ucapan ini masih terngiang di telinga saya), dll. Perempuan, perempuan, perempuan lagi. Padahal Anda mungkin juga punya adik perempuan, saudara perempuan, anak perempuan dan punya ibu yang juga perempuan, pasti Anda tidak rela jika yang saya alami terjadi pada mereka.

Saya mengajak teman-teman perempuan untuk speak up terhadap kekerasan rumah tangga yang dialami. Dan jangan ragu meminta keadilan, karena hak kita memang dijamin untuk itu. Laki laki dan perempuan sama. So mari #speakup dan #mulaibicara

2 dari 2 halaman

Nasib Baba Rafi

Tentang Baba Rafi, saya yakin, dengan ijin Allah, Baba Rafi akan baik baik saja. Setiap hari, dalam 14 tahun terakhir, saya mendedikasikan hidup saya, energi, keringat dan waktu saya 24/7 untuk Baba Rafi.

Baba Rafi sekarang memiliki karyawan lebih dari 1000 orang pegawai di grup, 1200 outlet di 9 negara. Saya akan memastikan bahwa Baba Rafi menjadi merk yang akan berkembang tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Internasional.

Keluarga besar Baba Rafi sudah seperti keluarga saya sendiri. Dan mereka semua bergantung dan menjemput rejeki di Baba Rafi. Ini murni perbuatan oknum, bukan brand atau perusahaannya.

Dengan segala kerendahan hati, saya berharap Anda semua tetap mendukung dan membeli Baba Rafi, karena saya dan segenap keluarga besar Baba Rafi memang bekerja dan mendedikasikan semua tenaga kami di sana.

I'm so proud of my team atas dedikasinya dan dukungannya.

Maturnuwun

#gerakbersama #speakupgirl #speakupurrights #perempuanberbicara #wanitaberbicara #mulaibicara

Beri Komentar