Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Selama beberapa tahun terakhir, bos Facebook, Mark Zuckerberg telah mengubah tampilan unggahan di Facebook. Dia menyebut pengguna akan lebih banyak melihat foto yang dibagikan pengguna, dan mengurangi unggahan artikel berita.
Upaya itu dilakukan untuk menghambat penyebaran propaganda dan berita palsu. Tapi, di sini lain, kondisi ini merugikan media massa online yang berharap besar di Facebook sebagai media penyebaran berita.
Dalam unggahan terbarunya, Zuckerberg membahas ide baru mengenai cara kerja media online. Dia menyarankan, Facebook dapat membangun fitur khusus yang berisi berita berkualitas dan akan membayar penerbit sebagai bentuk dukungan.
" Kami berbicara mengenai peran kualitas jurnalisme dalam membangun komunitas berpengetahuan, dan prinsip-prinsip yang harus digunakan Facebook untuk membangun berita dengan kualitas tinggi, serta model bisnis dan ekosistem yang mendukungnya," kata Zuckerberg, dikutip dari CNet, Selasa, 2 April 2019.
Selama bertahun-tahun kemunculannya, Facebook menghadapi berbagai macam kegagalan melindungi privasi pengguna, aksi teros, penyebaran berita palsu, hingga perilaku berbahaya.
Facebook juga telah menciptakan `ruang perang` untuk memastikan semua iklan politik diterbitkan dan diarsipkan secara transparan.
Ide Zuckerberg itu bukan satu-satunya cara mengatasi berita palsu. Pekan lalu, Apple mengumumkan memperbarui aplikasi berita miliknya, Apple News Plus.
Aplikasi tersebut menampilkan sebanyak 300 publikasi seharga US$ 9,99, setara Rp142 ribu, per bulan.
Berita hoaks telah menjadi kegelisahan sejumlah perusahaan digital. Raksasa digital sekelas Google merasakan kegelisahan karena regulator di Eropa meloloskan `pajak tautan`, yang akan membebani perusahana seperti Google karena menampilkan tautan cuplikan berita. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya