Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Fashion Muslim Beri Kesempatan Brand Baru Mendunia

Reporter : Agung
Senin, 5 Mei 2014 07:30
Fashion Muslim Beri Kesempatan Brand Baru Mendunia
Sekitar 11 persen populasi dunia merupakan muslim dibawah usia 25 tahun yang membentuk pasar baru dunia fashion. Industri fashion barat terlambat menangkap peluang itu.

Industri fashion negara barat sangat lambat mengenali munculnya gelombang baru konsumen muslim di dunia fashion. Brand besar dunia masih berkutat dengan mode pakaian barat. Sementara populasi muslim yang masih muda sedang berkembang. Fenomena yang muncul, brand yang jauh lebih kecil dan para pengusaha pemula meraih peluang ini.

" Ini menarik sekali," kata Shelina Janmohamed, wakil presiden Ogilvy Noor, bagian dari pemasaran global dan public relations Ogilvy & Mather. Menurutnya jika pelaku fashion melihat kesempatan bernilai ratusan miliar dolar ini, maka akan melahirkan brand baru dan kecil yang bisa bersaing dengan brand besar yang sudah establish.

Analisa Ogilvy itu dikutip dalam The Business of Fashion, Kamis, 1 Mei 2014. Munculnya gelombang permintaan busana muslim ini karena makin banyak perempuan muslim yang ingin berpakaian modis untuk mengekspresikan kepribadian mereka. Hal ini bisa dilihat dari tren demografi yang signifikan di dunia muslim. Saat ini jumlah populasi masyarakat muslim di dunia sekitar 1,8 miliar, dimana sekitar 43 persennya berusia di bawah 25 tahun.

Muslim di bawah usia tersebut membentuk sekitar 11 persen populasi global. Dari angka tersebut bisa dilihat telah tersedia masyarakat muslim sebagai target pasar. Dan jumlah mereka terus meningkat. " Uniknya, mereka sangat tertarik dengan dunia fashion dan ingin menunjukkan individualitas mereka melalui apa yang mereka beli," kata Shelina.

Meningkatnya daya beli ini juga karena makin meningkatnya kesempatan kerja bagi perempuan muslim. Namun Ogilvy juga mengingatkan fashion dalam dunia Islam tidak selalu seragam. Pengikut Islam tersebar di seluruh dunia, dari Jakarta sampai Alaska. Pengaruh iklim, budaya dan interpretasi doktrinal mempengaruhi cara mereka berpakaian. Di London atau Paris, akan banyak ditemui wanita dari Teluk yang mengenakan abayah atau hijab.

Sementara di belahan dunia lain gaya berpakaiannya sangat beragam. Di India atau Indonesia yang merupakan negara Islam yang paling padat penduduknya mereka memiliki perspektif yang sangat berbeda tentang cara berpakaian. " Mereka memakai warna-warna yang memukau, pola yang fantastis, dan kain yang sangat berbeda," kata Shelina.

Beri Komentar