Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fashion Muslim Dunia Sangat Beragam (The Business Of Fashion)
Industri fashion negara barat sangat lambat mengenali munculnya gelombang baru konsumen muslim di dunia fashion. Brand besar dunia masih berkutat dengan mode pakaian barat. Sementara populasi muslim yang masih muda sedang berkembang. Fenomena yang muncul, brand yang jauh lebih kecil dan para pengusaha pemula meraih peluang ini.
" Ini menarik sekali," kata Shelina Janmohamed, wakil presiden Ogilvy Noor, bagian dari pemasaran global dan public relations Ogilvy & Mather. Menurutnya jika pelaku fashion melihat kesempatan bernilai ratusan miliar dolar ini, maka akan melahirkan brand baru dan kecil yang bisa bersaing dengan brand besar yang sudah establish.
Analisa Ogilvy itu dikutip dalam The Business of Fashion, Kamis, 1 Mei 2014. Munculnya gelombang permintaan busana muslim ini karena makin banyak perempuan muslim yang ingin berpakaian modis untuk mengekspresikan kepribadian mereka. Hal ini bisa dilihat dari tren demografi yang signifikan di dunia muslim. Saat ini jumlah populasi masyarakat muslim di dunia sekitar 1,8 miliar, dimana sekitar 43 persennya berusia di bawah 25 tahun.
Muslim di bawah usia tersebut membentuk sekitar 11 persen populasi global. Dari angka tersebut bisa dilihat telah tersedia masyarakat muslim sebagai target pasar. Dan jumlah mereka terus meningkat. " Uniknya, mereka sangat tertarik dengan dunia fashion dan ingin menunjukkan individualitas mereka melalui apa yang mereka beli," kata Shelina.
Meningkatnya daya beli ini juga karena makin meningkatnya kesempatan kerja bagi perempuan muslim. Namun Ogilvy juga mengingatkan fashion dalam dunia Islam tidak selalu seragam. Pengikut Islam tersebar di seluruh dunia, dari Jakarta sampai Alaska. Pengaruh iklim, budaya dan interpretasi doktrinal mempengaruhi cara mereka berpakaian. Di London atau Paris, akan banyak ditemui wanita dari Teluk yang mengenakan abayah atau hijab.
Sementara di belahan dunia lain gaya berpakaiannya sangat beragam. Di India atau Indonesia yang merupakan negara Islam yang paling padat penduduknya mereka memiliki perspektif yang sangat berbeda tentang cara berpakaian. " Mereka memakai warna-warna yang memukau, pola yang fantastis, dan kain yang sangat berbeda," kata Shelina.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya