Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Pahit Manis Desainer Busana Muslim Temi Sumarlin

Reporter : Kusmiyati
Kamis, 1 Mei 2014 18:18
Pahit Manis Desainer Busana Muslim Temi Sumarlin
Produk berlabel "Temiko" yang diusungnya sempat ditolak masuk ke dalam salah satu pusat perbelanjaan kelas A di kawasan Senayan.

Kesuksesan perancang busana muslim Temi Sumarlin tidak didapatkan dengan mudah. Temi merasakan juga jatuh bangunnya dunia bisnis. Sebelum omzetnya mencapai miliaran rupiah, produk berlabel " Temiko" yang diusungnya sempat ditolak masuk ke dalam salah satu pusat perbelanjaan kelas A di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

" Saya juga merasakan agak pahit. Tahun 2000 saya sempat ditolak karena peraturan mereka begitu ketat, tidak mengizinkan SPG (Sales Promotion Girl) berhijab," kata Temi saat berbincang dengan Dream.co.id di ruang kerjanya, Cikini, Jakarta Pusat.

Kala itu, baru ada sekitar dua atau tiga brand fesyen muslimah di Tanah Air. Omzet 14 tahun lalu baru sekitar Rp 20-30 juta perbulan. Tapi Temi sangat yakin karena pangsa pasarnya di segmen ini masih besar. Temi akui, produk hijab pernah dipandang sebelah mata.

" Mungkin karena mereka tidak berhijab, maka sebagai orang awam mengira kalau hijab itu norak, nggak keren, emak-emak bangetlah," timpal wanita asal Bandung, Jawa Barat ini. " Saya diizinkan membuka store namun dengan banyaknya catatan. Tapi saya mengiyakan dan ingin membuktikan kalau fesyen muslimah tidak begitu."

Temi berjuang mengajak teman-teman desainer bergabung dalam satu tempat. Perjuangan keras tidak sia-sia. Terbukti, pihak mal memberikan apresiasi lebih kepada perancang yang kini menjabat Pemimpin Redaksi Scarf Magazine ini.

" Tiga bulan berjalan fashion hijab dimulai. Semua orang berhijab datang. Enam bulan sampai satu tahun kemudian akhirnya mereka mengakui bisnis ini memang menjanjikan. Saya hanya nyengir," sumringah wanita yang sedang mengandung anak pertama ini.

Kemampuan Temi sudah tidak diragukan lagi. Produk Temiko sudah pernah masuk jajaran desainer kenamaan melalui ajang Indonesia Fashion Week dan Jogja Indonesia Fashion Week. Temi sangat optimistis bisnis fesyen muslimah Tanah Air akan menembus pasaran internasional.

" Terlebih lagi menurut Kementerian Perdagangan, industri kreatif fesyen hijab menyumbang 30 persen di ekonomi global. Dan pada 2020 Indonesia akan menjadi kiblat fesyen muslimah dunia. Bisalah sampai ke kancah internasional," terang Temi.

Beri Komentar