Film Pengubah Dunia

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 9 Maret 2017 20:20
Film Pengubah Dunia
Pembuat film dapat menyalakan kamera mereka untuk menangkap kualitas manusia dan mematahkan stereotip dari berbagai negara dan agama.

Dream – Minggu malam, 26 Februari 2012. Gedung Dolby Theatre di Hollywood gegap-gempita. Maklum, hajatan terbesar jagat film tengah digelar. Academy Award siap menyebar Piala Oscar.

Pemandangan kontras terlihat di kota jauh nun di sana. Di Teheran, tepatnya. Ibu negeri Iran itu tampak senyap. Tak banyak orang lalu-lalang. Jalanan lengang. Banyak rumah menutup pintu.

Tapi kota itu tak tengah sekarat. Atau bahkan mati. Banyak penduduk daerah itu menyusup ke dalam rumah. Mendekam di balik bilik. Mereka bersembuyi. Ketakutan.

Bukan karena tengah perang. Mereka tengah menghindar dari aparat, hanya sekadar untuk menonton televisi. Penduduk sembunyi-sembuyi memasang TV kabel, agar bisa menangkap siaran luar negeri.

Hari itu, jutaan mata di negeri Para Mullah dipaku ke layar kaca. Bukan untuk menonton siaran bola, olahraga beken yang digandrungi umat manusia. Melainkan untuk menyaksikan hajatan Academy Award ke-84, yang digelar di Hollywood sana.

Keinginan warga Iran untuk menyaksikan acara tahunan itu memang tak terbendung. Sebab, dalam ajang tersebut, karya salah satu saudara mereka, Asghar Farhadi, masuk nominasi Piala Oscar.

Pengorbanan itu akhirnya tak sia-sia. Karena, " A Separation" besutan Farhadi dinobatkan sebagai yang terbaik kategori film berbahasa asing. Film itu diganjar Piala Oscar, simbol paling bergengsi dalam perfilman dunia.

Dan lima tahun kemudian, sejarah kembali terulang. Film Farhadi yang berjudul “ The Salesman” kembali masuk nominasi dan menyabet gelar yang sama. Film berbahasa asing terbaik.

Namun, Farhadi tak datang ke Dolby Theatre. Dia sengaja tak hadir, sebagai protes kepada Presiden Donald Trump yang melarang pendatang dari Iran dan enam negara Muslim lainnya untuk menginjak tanah Paman Sam.

Farhadi hanya mengirim sambutan. Piala itu diserahkan kepada wakilnya, Anousheh Ansari, astronot wanita asal Iran. Wanita ini juga membacakan sambutan Farhadi di panggung bernuansa keemasan, di depan para pesohor perfilman dunia itu.

“ Ini kehormatan besar menerima penghargaan berharga untuk kedua kalinya,” kata Ansari, membaca sambutan Farhadi.

“ Saya mohon maaf tidak bersama Anda malam ini. Ketidakhadiran saya untuk menghargai rakyat di negeri saya dan enam negara lain yang dilecehkan oleh hukum tak manusiawi yang melarang imigran masuk ke Amerika Serikat.”

Fisik Farhadi memang tak hadir pada Minggu malam, 26 Februari 2017 itu. Namun dia tetap dihormati. Karya-karyanya menjadi referensi dunia perfilman dunia.

Tak kalah meriah dengan para jawara lain, sambutan Farhadi yang dibacakan Ansari itu mendapat aplaus dari pengunjung gedung berkapasitas tiga ribu empat ratus orang itu. Sebuah pengakuan dunia untuk Farhadi.

***
Farhadi memang berbakat di dunia film. Sejak remaja, pria kelahiran Esfahan, 1 Januari 1972, itu telah belajar membuat film-film pendek. Tak hanya menjadi sutradara. Dia juga menulis skenarionya.

Untuk menguatkan rasa penasarannya di dunia peran, dia belajar di Jurusan Teater Universitas Tehran, Iran. Usai tamat, dia melanjutkan ke jenjang master di Jurusan Teater Universitas Tarbiat Modaris, di kota yang sama.

Usai menyelesaikan studinya, Farhadi memutuskan menulis skenario untuk drama radio dan menyutradarai program televisi. Pada 2001, kariernya di dunia perfilman dimulai. Dia menjadi salah seorang penulis skenario film bertema satir politik Ertefa-e past atau Low Heights (2002).

Setahun setalah Low Height rilis, Farhadi mulai memberanikan diri menulis skenario dan menyutradarai film pertamanya, Raghs dar ghobar atau Dancing in the Dust. Merunut film-film yang dihasilkan, Farhadi memang lekat dengan tema sosial dan etika.

Sebut saja dalam “ Dancing in the Dust”. Dia menceritakan kisah seorang pemuda yang melarikan ke gurun pasir setelah dipaksa menceraikan sang istri oleh ibunya. Pemuda itu dipaksa bercerai karena sang ibu mendengar rumor bahwa menantunya merupakan seorang pelacur.

Dalam wawancara dengan televisi Prancis, France 24, Farhadi mengaku tertarik pada tema sosial dan etika. Dan kisah dalam “ The Salesman” yang meraih Oscar, serta film-filmnya yang lain merupakan cerita tentang kehidupan manusia.

“ Cerita yang muncul dapat terjadi di belahan dunia lain,” ujar Farhadi. Kreatifitas Farhadi seolah tak terbendung. Hingga kini belasan film sudah dia hasilkan. Penghargaan pun sudah segunung.

Sepanjang kariernya, Farhadi memang mengikuti dua pakem perfilman Iran: melodrama realitas sosial tahun 1990an dan film jalanan tahun 1970an. Karya-karya dengan model ini memberikan rasa keakraban untuk pemirsa Iran.

Tak mudah bagi Farhadi untuk meraih karier cemerlang ini. Banyak rintangan yang harus dia hadapi. Penuh liku. Pada September 2010 dia dilarang membuat film oleh Departemen Kebudayaan Iran. Dia dituduh mendukung Jafar Panahi dan Mohsen Makhmalbaf, dua sutradara top di negeri Para Mullah itu.

Namun, larangan itu kemudian dicabut oleh pemerintah Iran setelah permintaan maafnya diterima oleh Departemen Kebudayaan. Dia dibolehkan melanjutkan produksi film “ A Separation”, yang pada 2012 meraih Piala Oscar untuk kategori film berbahasa asing terbaik.

Farhadi mendapat perhatian luas di negara asalnya dengan “ A Separation”. Dia mampu menerobos panggung dunia sekelas Academy Award. Dialog dalam film Farhadi ini menandai pergeseran selera penikmat film, baik di dalam dan di luar Iran.

Film “ A Separation” juga mengubah pandangan rakyat Iran terhadap Barat. Banyak warga yang semula apatis, tiba-tiba gemar mengakses informasi dari Barat. Mereka mencari-cari perkembangan Farhadi di luar negeri melalui berbagai media.

***
Dan film “ The Salesman” menjadi kejutan baru dari Farhadi. Film ini berkisah mengenai kehidupan pribadi Emad yang diperankan Shahab Hosseini dan Rana oleh Taraneh Alidoosti. Pasangan muda itu dipaksa pindah dan mencari tempat tinggal baru karena mendapat kabar bangunan lama yang mereka tempati akan diruntuhkan.

Emad dan Rana dipaksa untuk menemukan kontrakan lain. Sayangnya, tempat tinggal baru mereka merupakan kamar lusuh, mantan penyewa meninggalkan barang-barang miliknya. Berserakan.

Tetapi, cerita itu dibumbui berbagai tragedi. Farhadi secara cerdik memasukkan monolog drama klasik Amerika Serikat karya Arthur Miller, Death of Salesman sebagai pelengkap cerita.

Emad dan Rana digambarkan seperti kisah Willy dan Linda, dalam latar Persia. Kisah Willy dan Linda berlatar Amerika Serita tahun 1930-an.

“ Ketika aku menulis naskah (The Salesman), aku tak tahu drama apa yang seharusnya aku masukkan ke dalam film. Aku mencoba drama Persia. Kemudian, aku mulai membaca kisah-kisah drama karya (Jean-Paul) Sartre, (Eugene) Ionesco, Tennessee Williams. Ketika aku membaca Death of Salesman, aku mendapat ide,” kata Farhadi saat diwawancarai AV Club.

Teknik penggabungan kisah itu mendapatkan pujian banyak kritikus film. Kritikus film dari New York Times, A.O Scott mengatakan, The Salesman memunculkan sisi realis psikologis tokoh yang cerdik. Dia juga memuji teknik bercerita Farhadi dalam film itu.

“ Meskipun film itu mengambil latar lingkungan modern dan urban, tetapi ada sisi masa lampau yang menjadi jembatan dalam kehidupan modern mereka. Sebuah karya yang memiliki pemahaman nilai etis untuk mengatasi kompleksitas masalah disertai seni berkisah,” kata Scott.

Pujian itu menorehkan nama Farhadi sebagai peraih Piala Oscar untuk kedua kalinya. Meski berharap nilai-nilai empati dapat muncul dalam filmnya, Farhadi enggan menganggap filmnya sebagai film Iran, atau film khas Iran.

“ Cerita yang terjadi pada suatu atau keluarga tidak dapat digeneralisir. Tidak ada film Iran,” kata dia.

Dan lihatlah hasilnya, film “ The Salesman” itu meraih Piala Oscar. Menyingkirkan Land of Mine dari Denmark, A Man Called of Ove dari Swedia, Tanna dari Australia, dan Toni Erdman dari Jerman.

Melalui “ A Separation” Farhadi sudah mengubah sudut pandang warga Iran terhadap Barat. Mungkin dengan “ The Salesman” ini dia bisa mengubah dunia dengan kritik-kritik sosialnya.

Sebagaimana penutup sambutannya, “ Pembuat film dapat menyalakan kamera mereka untuk menangkap kualitas manusia dan mematahkan stereotip dari berbagai negara dan agama. Mereka menciptakan empati antara kita dan orang lain. Empati kita butuhkan hari ini lebih dari sebelumnya.”

Beri Komentar