Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock)
Dream - Kesadaran kaum Hawa terhadap kesehatan kulit semakin tinggi. Buktinya, semakin banyak wanita pergi ke salon kecantikan untuk merawat kulit mereka. Tak hanya golongan dewasa, anak-anak perempuan pun semakin peduli dengan perawatan kulit.
" Sejauh ini kenaikan pengunjung millenials meningkat sekitar 30 persen," ungkap Kartini Ong, Head of Doctors di Crystal Aesthetic Clinic, Jakarta Pusat, Rabu 28 November 2018.
Kebanyakan dari mereka melakukan treatment penyembuhan jerawat, pengecilan pori-pori, dan conturing atau pembentukan wajah.

" Kalau masih muda, biasanya perawatan acne karena ada perubahan hormonal atau pengecilan pori-pori. Tapi, yang sedang tren itu conturing. Mungkin karena medsos, jadi mereka punya idol yang ingin ditiru," jelasnya.
Generasi milenial pun dinilai lebih 'berani' untuk melakukan perawatan conturing karena banyaknya informasi yang ada di internet. Sehingga, mereka tidak ragu untuk melakukan pembentukan hidung, bibir, atau rahang, walaupun kulitnya belum mengendur.
" Mereka lebih berani daripada generasi sebelumnya. Mulai lebih aware untuk conturing tanpa menunggu kulit sagging. Contohnya ingin hidungnya lebih mancung atau pointy," imbuhnya.

Conturing pun biasa dilakukan dengan menggunakan benang, filler, maupun botox. Biaya yang harus dikeluarkan pun beragam.
" Tergantung seberapa mau conturingnya. Ada yang di-filler 1cc, Rp6 juta sudah bagus," ucap dia.
Terlepas dari usia millenials, pasien termuda yang pernah ditangani oleh Kartini berusia 8 tahun dengan masalah kulit berjerawat karena perubahan hormonal.
Penanganan anak-anak usia dini hingga dewasa tidak jauh berbeda. Hanya perlu pendekatan yang sedikit berbeda karena anak-anak masih perlu pengawasan orang tua. Apalagi jika perlu mengonsumsi obat jerawat atau ada tindakan tertentu.

" Kalau ke anak-anak, diberikan dosis yang berbeda dan didiskusikan dengan orang tuanya. Jangan sampai jerawat dibiarkan, apalagi dipencet. Jerawat bisa jadi scar yang susah hilang, menimbulkan flek atau hiperpigmentasi. Bisa ganggu penampilan," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya