Ini Risiko Jika Tetap Mudik Saat Pandemi Covid-19

Reporter : Ulyaeni Maulida
Sabtu, 4 April 2020 17:01
Ini Risiko Jika Tetap Mudik Saat Pandemi Covid-19
Mudik menjadi salah satu ritual yang wajib dilakukan menjelang libur panjang. Terutama saat memasuki bulan Ramadan. Namun, ditengah Covid-19 yang mewabah, mudik menjadi hal yang tidak dianjurkan.

Dream – Bulan Ramadan semakin mendekati hari H. Dan mudik menjadi salah satu ritual yang tak boleh dilewatkan.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, mudik menjadi hal yang tidak dianjurkan. Meskipun pemerintah tidak resmi melarang, bagi mereka yang terpaksa mudik akan dianggap sebagai ODP atau Orang Dalam Pengawasan.

" Jadi arahnya tidak akan keras melarang, tapi akan dikendalikan supaya saat mereka pulang kampung mereka tidak membahayakan orang-orang di kampungnya," kata Djamaluddin Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenkomarves saat konferensi pers virtual, Kamis 2 April 2020 lalu.

Di sisi lain, pemerintah juga tetap berupaya agar arus mudik dapat dikendalikan. Hal tersebut dilakukan guna mencegah virus Covid-19 dibawa ke daerah asal pemudik.

Diharapkan, para pemudik yang akan melakukan “ mudik” tetap dalam keadaan bersih dari Covid-19.

1 dari 3 halaman

Risiko Tertular dalam Perjalanan

Mudik© Pexels.com

Selama dalam perjalanan, jika pemudik tidak berhati-hati dan menjaga diri, risiko untuk tertular juga sangat tinggi.

Virus Covid-19 dapat menular melalui kontak langsung. Untuk itu kegiatan mudik sangatlah rentan terhadap risiko penularan.

Selama mudik, tidak ada yang dapat menjamin perjalanan kamu aman. Karena virus Covid-19 dapat menular dari siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.

Fasilitas umum selama perjalanan tidak selalu bersih. Bahkan bisa saja terkontaminasi oleh orang yang tak sadar sudah menularkan virus tersebut. 

Mudik memang tidak dilarang, tetapi demi mencegah penularannya, sebaiknya mudik tahun ini ditunda terlebih dahulu. Karena bisa saja anda menjadi pembawa virus bagi keluarga di rumah.

2 dari 3 halaman

Risiko Penularan Saat Sampai di Kampung

Mudik© Pixabay.com

Seperti yang diketahui, penularan virus Covid-19 dapat menyerang semua golongan usia. Namun memang lebih rentan pada golongan usia lanjut atau di atas 50 tahun.

Terutama dengan penyakit bawaan seperti penyakit jantung, paru-paru atau diabetes. Namun seperti dalam imbauan WHO, anak muda juga dapat tertular Covid-19.

Bahkan dibeberapa kasus, banyak anak muda yang tertular namun tanpa gejala. Sehingga ia tidak sadar menjadi carrier atau pembawa virus bagi yang lain. Terutama bagi orang yang memiliki imun rendah.

Untuk itu risiko penularan akan meningkat jika anak muda yang melakukan mudik tidak langsung melakukan isolasi mandiri.

Istana sudah menyatakan bagi pemudik diperbolehkan pulang dengan catatan harus melakukan isolasi mandiri. 

Selain itu pemudik juga akan dicatat sebagai ODP. Untuk itu, saat pulang para pemudik diharuskan melaporkan diri ke RT/RW setempat. Untuk dilakukan pencatatan, agar memastikan para pemudik benar-benar melakukan isolasi mandiri.

3 dari 3 halaman

Harus Ada Edukasi Mudik

Mudik© Pixabay.com

Selain risiko yang dapat terjadi saat mudik, tetap memilih tinggal di daerah rantauan juga merupakan salah satu upaya pencegahan Covid-19. Warga yang ingin mudik harus memastikan diri, mereka negatif Covid-19.

Hal itu dapat dilakukan melalui rapid test hingga PCR. Hal ini dilakukan untuk memastikan, para pemudik yang pulang tidak akan menjadi carrier saat di daerahnya.

Tetapi jika memang tidak mengetahui apakah ia negatif atau tidak, disarankan untuk tidak melakukan kegiatan mudik.

Namun Mensesneg Pratikno menegaskan pemerintah mengajak dan berupaya keras agar masyarakat tidak perlu mudik.

Anjuran tidak mudik juga sebagai bentuk mengikuti kebijakan pemerintah terkait social distancing.

Namun jika mudik, justru membuka kesempatan untuk melakukan kontak sosial dengan orang lain dan hal tersebut sangat berbahaya.

Imbauan untuk tidak mudik juga perlu diberlakukan agar dapat memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Hal ini merupakan strategi yang baik karena merupakan salah satu cara untuk mengurangi aktifitas yang dapat memicu penyebaran Covid-19.  

Beri Komentar