Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pexels.com)
Dream – Proyek yang dilakukan para ilmuan ini mulanya bertujuan untuk meneliti struktur protein pada virus Covid-19. Tim peneliti memberi setiap gerakan asam amino dengan nada yang berbeda.
Para peneliti mengaku memilih menggunakan alat musik gesek dari Jepang agar memberikan efek menenangkan.
Dilansir dari scmp.com, sel berbentuk paku pada virus Covid-19 yang berfungsi sebagai pengikat pada reseptor sel manusia. Paku itu memiliki kandungan kombinasi asam amino.
Para peneliti dari departemen teknik sipil dan lingkungan dari Massachusetts Institute of Technology menggunakan teknologi kecerdasan buatan bernama sonifikasi, untuk menetapkan masing-masing asam amino. Dan mengubah seluruh protein menjadi skor.
Asam amino ini cenderung melengkung menjadi heliks atau membentang menjadi lembaran. Para peneliti mendapatkan fitur ini dengan mengubah durasi dan volume dari catatan terkait virus covid-19.

Ide ini awalnya didasari dari penelitian yang sama. Penelitian itu telah diterbitkan dalam jurnal ACS Nano pada Juni tahun lalu, tentang bagaimana menerjemahkan sekuens asam amino menjadi suara.
Ini adalah metode yang lebih cepat dan lebih intuitif daripada metode konvensional, yang digunakan untuk mempelajari protein seperti pemodelan molekuler, kata para peneliti.
Pendekatan ini menyediakan jalan untuk memahami pola urutan, variasi, dan mutase. Pendekatan ini juga menawarkan mekanisme untuk menjelaskan pentingnya urutan protein. Ini dapat digunakan untuk mendeteksi efek mutasi melalui suara.
Potongan sepanjang 110 menit yang meliputi lonceng berdentang, senar dan seruling, mewakili aspek berbeda dari protein. Hal itu diungkapkan sebuah laporan yang diterbitkan di majalah Science pekan lalu.
Ilmuwan MIT mengatakan mereka memilih koto, alat musik gesek tradisional Jepang. Koto memiliki suara yang menenangkan. Itulah mengapa para peneliti lebih memilih menggunakan Koto.
Proyek ini juga memiliki tujuan serius. Karena para peneliti berharap, hal itu akan membantu mengidentifikasi bagian-bagian protein yang dapat ditargetkan oleh antibodi atau obat-obatan, dengan mencari urutan musik tertentu yang sesuai dengan area ini.
Berikut adalah suara dari virus corona yang telah diubah kedalam bentuk musik.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya