Istri Wakil Bupati Trenggalek Bangga Batiknya Tampil di London

Reporter : Gladys Velonia
Senin, 19 Februari 2018 10:28
Istri Wakil Bupati Trenggalek Bangga Batiknya Tampil di London
Batik itu akan dibaw oleh desainer Lia Afif.

Dream - Istri Wakil Bupati Trenggalek, Novita Hardini, merasa bangga karena batik daerahnya dibawa ke ajang Fashion Scout London Fashion Week 2018. Oleh karena itu dia mengantar langsung desainer Lia Afif yang membawa koleksi batik Trenggalek ke ajang bergengsi itu.

" Alhamdulillah Allah menyambut niatan saya melalui ajakan Mbak Lia, jadi saya sangat membuka diri untuk kerjasama dengan ajakan dia," ucap Novita di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Lia Afif menjadi salah satu dari lima desainer modest fashion Indonesia yang unjuk gigi di Fashion Scout London Fashion Week 2018. Bertajuk Dhandaka Turqa, Lia membawa koleksi batik Trenggalek. Koleksi itu merupakan kerja sama dengan daerah Trenggalek, Jawa Timur.

Menurut Novita, batik Trenggalek memiliki kualitas bagus untuk dipasarkan di tingkat internasional. Ibu tiga anak itu mengatakan, Pemda Trenggalek belum membuka diri untuk mendorong produk khasnya agar lebih dikenal luas. Karena itu Novita melakukan langkah kecil ini agar batik Trenggalek bisa lebih dikenal masyarakat.

 istri bupati trenggalek© Gladys Velonia

Lantas, apa bedanya batik Trenggalek dengan batik khas daerah lainnya?

Bicara motif, setiap daerah punya motif batik tersendiri dengan filosiofi yang berbeda-beda. Namun, katanya, batik khas daerahnya kental akan identitas daerah Trenggalek yang sebagian besar warganya adalah petani. Contohnya, cengkeh, ungkar padi, parang, sekar jagat, dan motif turunggoyaksa.

" Turunggoyaksa sendiri adalah ikon dari kabupaten kami sebagai simbol sejarah bahwa dulu kami melawan iblis atau monster. Jadi kami berhasil melawan hawa nafsu. Itu simbol dan filosofi yang mahal sekali yang dimiliki daerah kami," jelas istri Mochammad Nur Arifin itu.

Busana yang dibawa Lia adalah batik Trenggalek dengan warna turqoise. Novita pun setuju jika warna-warna batik khas Trenggalek cocok dengan warna hijau asli alam.

" Batiknya soft, tidak yang corak dan bright banget. Benar-benar soft. Kisaran harganya dari Rp300 ribu sampai Rp1 juta, batik tulis yang menggunakan warna alam asli," kata Novi. (eko)

1 dari 1 halaman

5 Desainer Modest Wear Bersiap Ramaikan London Fashion Week

Dream - Desainer busana muslim Indonesia kembali melangkah ke panggung dunia. Sabtu, 10 Februari 2018 lalu, Vivi Zubedi sukses membuius pengunjung Newyork Fashion Week.

Selanjutnya, akan ada 5 desainer modest wear lokal yang siap unjuk karya di ajang Fashion Scout, bagian dari London Fashion Week Autumn/Winter 2018. Kelima desainer yang tergabung dalam Indonesia Modest Fashion Designer (IMFD) itu antara lain Jeny Tjahyawati, Lia Afif, Aisyah Rupindah Chan, Ratu Anita Soviah dan Tuty Adib.

Mereka lolos kurasi dan dibawa oleh House Of MEA, agensi para desainer berbakat di Asia maupun Timur Tengah.

Masing-masing desainer membawa 6 koleksi terbaiknya dengan menonjolkan sentuhan kain tradisonal. Rencananya, karya mereka akan tampil pada Jumat, 16 Februari 2018 di Freemanson's Hall 60 Great Quenn Street, London.

Seperti apa keindahan dan detail setiap rancangan dari 5 desainer tersebut? Berikut koleksi yang akan tampil di London Fashion Week.

  London Fashion Week/ Gladys Velonia© dream.co.id

Jeny Tjahyawati
Koleksi Jeny untuk London Fashion Week terinspirasi dari Bunga Loppo. Dituangkan dalam koleksi yang indah modern, elegan dan bernuansa etnik. Untuk menonjolkan kekuatan rancangannya, Jeny tertarik untuk mengangkat kain tradisonal Makassar.

" Biasanya kalau bunga loppo itu dari sarung sutra motifnya dan kali ini saya bawa dari kombinasi bordir lesa dan bulu sintetis," jelasnya saat konfrensi pers Indonesia Modest Fashion Designer di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu 14 Februari 2018.

Detail koleksi meliputi dress bersiluet A-line yang diperindah dengan berbagai ornamen bordir, manik-manik, swarovsky dengan hingga pola 3dimensi.

Ratu Anita Soviah
Ratu Anita Soviah membawakan koleksi dari brand-nya bernama Lentera. Perancang asal Palembang ini menampilkan kain jumputan Palembang dengan pewarna alam. Diungkan Ratu Anita jika semua koleksinya dikerjakan dengan menggunakan teknik tie dye.

" Di koleksi ini saya mengedepankan pewarna alami dari kulit jengkol, kulit mangga, kunyit, dan alang-alang. Biasanya kalau kain Palembang terkenal dengan warna yang cerah, tapi kali ini warnanya soft karena memang dari pewarna alami" kata Ratu.

Lia Afif
Terlihat natural dan elegan saat mengenakan busana muslim adalah citra yang ingin diangkat oleh Lia. Ia pun memboyong busana muslim bertema Dhandaka Turqa.

Dhandaka berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya puisi sedangkan Turqa adalah bahasa Inggris yang merupakan turunan dari Turquoise.

" Saya mau koleksi saya ini bercerita tentang alam budaya warna Turkqoise yang saya angkat. Dengan menggunakan batik asli Trenggalek, saya lengkapi koleksi ini dengan seruti polis dan beberapa bordir menyerupai tiker," ucap Lia.

  London Fashion Week/ Gladys Velonia© dream.co.id

Aisyah Rupindah Chan
Mengangkat tema Sikok, Aisyah terinspirasi oleh kebudayaan kota Jambi lewat brandDarabirra. Melalui koleksi busana syari, dia ingin membuktikan jika agama tak membatasi seorang Muslimah tampil modis.

" Melalui event ini saya menyampaikan pesan kepada dunia bahwa ini islam. Untuk tampil fashionable, trendy dan elegan tidak perlu berkompromi dengan keyakinan kita, pertama kalinya modest tampil di runway London Fashion Week," kata Aisyah.

  London Fashion Week/ Gladys Velonia© dream.co.id

Tuty Adib
Desainer Tuty Adib membawakan tema Basiba yang merupakan busana traditional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Meski diambil dari kain tradisional, koleksi tersebut menampilkan cutting yang unik dan modern. Siluet yang ditampilkan memiliki detail beads dan handcraft.

" Saya tertarik mengangkat kain tradisonal Payakumbuh karena tenun Payakumbuh itu memiliki keindahan pada motifnya," pungkas Tuty.

Beri Komentar